Tampilkan postingan dengan label BAB 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAB 2. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 April 2011

POLA DASAR PEMIKIRAN AUDIO VISUAL

BAB II
PERANAN MOTIVASI SERTA PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL
DALAM MENGHAFAL SURAT-SURAT PENDEK

A. Motivasi Menghafal Surat Surat Pendek
Apabila kita membicarakan tentang motivasi, maka tak lepas kita akan membicarakan seorang individu sebagai mahluk hidup yang dikaruniai akal, dimana akal merupakan pembeda dengan mahluk Allah SWT yang lain. Dengan akal inilah manusia mampu berfikir untuk dapat menyelesaikan bermacam masalah yang dihadapi sepanjang perjalanan hidup manusia. Demikian pula akal inilah yang membimbing manusia untuk dapat menyusun cita-cita hidup dan menentukan langkah untuk mencapainya.
Berkaitan dengan cita-cita hidup dan menentukan langkah untuk mencapai cita-cita, motivasi mempunyai peranan besar dalam mewujudkan dan menjalani proses yang panjang dalam upaya mewujudkannya. Anak didik merupakan makhluk hidup yang tentunya tidak terlepas mempunyai motivasi sesederhana apapun mereka tetap akan berusaha mencapainya.
Dalam proses pembelajaran upaya menumbuhkan motivasi anak didik ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Dengan tingkat kemampuan antar individu yang tentunya mempunyai perbedaan, berbagai cara perlu ditempuh sebab mungkin satu cara hanya dapat digunakan oleh seorang saja dan tidak efektif bagi anak didik yang lain. Setiap anak menunjukkan problem individual sendiri, oleh karena itu mau tidak mau guru harus mengembangkan pemahaman tentang motif dan teknik motivasi. Memotivasi anak untuk belajar bukan merupakan perkara mudah kesabaran, pemahaman dan ketulusan menjadi modal dasar yang mesti dimiliki oleh guru. Menumbuhkan motivasi belajar untuk mempelajari apa yang harus dipelajari adalah tujuan penting untuk mencapai hasil pembelajaran yang optimal.
Yang akan diuraikan dalam sub item ini yaitu: peranan motivasi dalam menghafal surat-surat pendek, menghafal surat-surat pendek dalam Pendidikan Agama Islam, peranan motivasi terhadap kegiatan menghafal.
1. Peranan Motivasi dalam menghafal surat surat pendek
a. Pengertian Motivasi
Motivasi berasal dari kata motivate – motivation banyak digunakan dalam berbagai situasi. Dalam penulisan ini motivasi diarahkan pada bidang pendidikan khususnya dalam dalam kegiatan belajar-mengajar. S. Nasution dalam Zakiah Daradjat mengemukakan : To motivate a child to arrange condition so that the wants to do what he is capable doing ( memotivasi murid adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga anak itu mau melakukan apa yang dapat dilakukannya).
Pengertian motivasi lebih rinci dikemukakan oleh Zakiah Daradjat, bahwa motivasi dipandang sebagai suatu proses mengantarkan murid kepada pengalaman-pengalaman yang memungkinkan mereka dapat bekerja belajar, sebagai proses motivasi mempunyai fungsi antara lain:
1) Memberi semangat dan mengaktifkan murid agar tetap berminat dan siaga
2) Memusatkan perhatian anak pada tugas-tugas tertentu yang berhubungan dengan pencapaian tujuan belajar
3) Membantu memenuhi kebutuhan akan hasil jangka pendek dan hasil jangka panjang.
Dari uraian diatas dapat di ketahui bahwa motivasi tidak terlepas pula dengan penciptaan kondisi tertentu disaat anak didik berproses, bentuknya berupa rangsangan pengalaman yang memungkinkan anak didik untuk dapat melakukan sesuatu yang diinginkan untuk mengikuti rangsangan yang anak lihat. Kesadaran dan rasa untuk mencapai tujuan rangsangan mendorong anak akan berusaha meraih, anak akan mengusahakan dengan jalan dan cara masing-masing, cara inilah yang menjadi prinsip dalam motivasi.
Disamping pengertian diatas, motivasi dalam Zakiah Daradjat dibagi menjadi dua sisi sumber motivasi yaitu: motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Dapat dikatakan motivasi instrinsik ini anak dalam belajar karena belajar itu sendiri cukup bermakna bagi anak. Tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan belajar ini terletak pada perbuatan belajar (menambah pengetahuan dan keterampilan). Pada motivasi ekstrinsik anak belajar bukan karena belajar itu berarti baginya, melainkan mengharap sesuatu dibalik kegiatan belajar itu, misalnya: nilai yang baik, hadiah, penghargaan atau menghindari hukuman atau celaan.
Dari uraian diatas beberapa poin yang dapat dirangkai dalam proses motivasi yaitu berupa, upaya menumbuhkan dari dalam diri anak untuk melakukan apa yang dapat dilakukannya, menciptakan suasana belajar untuk mengantarkan murid kepada pengalaman-pengalaman yang memungkinkan mereka dapat bekerja belajar, mempertahankan semangat dan mengaktifkan murid agar tetap berminat dan siaga.
Memusatkan perhatian anak didik pada tugas (tujuan jangka pendek dan jangka panjang) serta membantu anak didik untuk memenuhi kebutuhan dalam upaya mencapai tujuan. Bagi anak didik dalam upaya mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai tujuan belajar, menghafal surat-surat pendek pada pembelajaran pendidikan agama Islam motivasi perlu menjadi dasar menghafal. Guru perlu meyakinkan bahwa menghafal surat-surat pendek itu tidaklah sukar, sebab dalam hal ini Allah SWT dalam surat Al Qamr ayat 17 yang berbunyi sebagai berikut:
       
Artinya: Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?.
Motivasi dapat dilakukan dengan mendorong rasa ingin tahu, keinginan mencoba, pentingnya sikap mandiri dan ingin maju. Menanamkan dalam diri anak didik tentang prinsip keimanan bahwa belajar merupakan ibadah serta belajar merupakan usaha melaksanakan perintah Allah SWT, dalam hal ini Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya dalam surat Al Mujaadilah ayat 11 yang berbunyi:
           
Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
Dari uraian dan pendapat serta petunjuk dalam firman Allah SWT mengenai motivasi untuk belajar (menjadi orang yang berilmu), motivasi merupakan dorongan yang dapat menimbulkan semangat untuk beraktifitas, bekerja, maupun dalam kegiatan belajar. Dengan motif baik secara instrinsik maupun ekstrinsik akan membuat anak didik mau untuk melakukan suatu kegiatan yang merupakan proses untuk mencapai tujuan. Kegiatan pembelajaran yang dapat memotivasi anak didik untuk mengikuti aktifitas sangat menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran.

b. Hubungan Antara Perhatian dan Motivasi
Kemampuan perhatian anak satu sama lain berbeda. Perhatian ini merupakan bentuk aktif dari kemampuan konsentrasi alat indra untuk menerima informasi. Kemampuan anak dalam konsentrasi berhubungan secara integral dengan daya ingat. Daya ingat bertambah sesuai dengan bertambahnya umur. Kapasitas memori otak seseorang mampu menyimpan sebanyak mungkin informasi dan selama mungkin. Namun, kemampuan tersebut harus didukung dengan konsentrasi. Maka, langkah awal yang harus ditempuh adalah meningkatkan daya konsentrasi.
Perbedaan kemampuan daya ingat anak didik dapat menjadi potensi yang menguntungkan namun juga bisa menjadi salah satu faktor penghambat tercapainya tujuan pembelajaran. Lemahnya seseorang dalam mengingat suatu informasi yang telah diperoleh tidak selalu menunjukan kelemahan daya ingatnya. Kelemahan tersebut kadangkala dipengaruhi oleh faktor-faktor kejiwaan atau kepribadian. Kepribadian anak didik mempunyai peranan penting dalam motivasi, dapat dikatakan kepribadian anak yang mudah menerima, memahami, terprovokasi akan lebih mudah untuk memberikan motivasi pada mereka. Namun terpenting adalah dorongan dasar dan pengalaman memiliki peran dalam situasi-situasi belajar.
Kemampuan dalam memotivasi merupakan modal kecakapan personal guru, yang belum tentu setiap guru memiliki. Belum ada prosedur yang baku dan disyahkan yang dapat diikuti guru, kecakapan guru untuk memahami pribadi anak didik akan menuntun bagaimana cara yang tepat untuk dapat memberikan motivasi yang sesuai.
Memilih media belajar yang tepat dan menarik dapat meningkatkan motivasi untuk memperhatikan (berkonsentrasi) terhadap materi belajar. Dengan media yang tepat pula kesan diterima indra akan selalu teringat dan menjadi mudah untuk dibangkitkan lagi. Dengan demikian perhatian menjadi titik tolak motivasi. Zakiah Daradjat menyatakan bahwa perangsangan dari luar (media) termasuk bahan-bahan pengajaran meninggalkan bekas atau tanggapan yang terang, tahan lama dalam ingatan dan mudah direproduksi bila masuk ke dalam jiwa melalui dria (indra).
Langkah-langkah dan prosedur yang baku dalam membangkitkan motivasi dalam pembelajaran belum ada, tetapi dalam Zakiah Daradjat menyatakan, bahwa:
1) Murid ingin bekerja dan akan bekerja keras bila dirinya berminat terhadap sesuatu. Ini berarti bahwa hasil belajar akan lebih baik bila murid dibangkitkan minatnya. Beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk membangkuitkan minat anak, seperti:
a) Membangkitkan kebutuhan pada diri anak seperti kebutuhan rohani, jasmani, sosial dan sebagainya. Rasa kebutuhan ini akan menimbulkan keadaan labil, ketidakpuasan yang memerlukan pemuasan.
b) Pengalaman-pengalaman yang ingin ditanamkan pada anak hendaknya didasari oleh pengalaman yang sudah dimiliki.
c) Memberi kesempatan berpartisipasi untuk mencapai hasil yang diinginkan. Tugas-tugas harus disesuaikan dengan kesanggupan murid. Anak yang tidak pernah mencapai hasil yang baik atau tidak pernah dapat menyelesaikan tugasnya, anak akan merasa putus asa.
d) Menggunakan alat-alat peraga dan berbagai metode mengajar.
2) Tetapkanlah tujuan-tujuan yang terbatas dan pantas serta tugas-tugas yang terbatas, jelas dan wajar.
3) Usahakan agar murid senantiasa mendapat informasi tentang kemajuan dan hasil-hasil yang dicapainya. Dan janganlah menganggap kenaikan kelas sebagai alat motivasi yang utama.
4) Hadiah biasanya menghasilkan hasil yang lebih baik dari hukuman.
5) Manfaatkan sikap-sikap, cita-cita dan rasa ingin tahu anak. Rasa ingin tahu murid adalah motivator yang berharga. Dorogan rasa ingin tahu dapat mengasilkan usaha-usaha yang menakjubkan.
6) Setiap orang menginginkan sukses (berhasil) dalam usahanya dan kalau sukses itu tercapai akan menambah kepercayaan kepada diri sendiri.
7) Suasana yang menggembirakan dan kelas yang menyenangkan akan medorong partisipasi murid.
8) Motivasi adalah alat bagi pengajaran, bukan tujuan untuk kesempurnaannya memerlukan perhatian terhadap setiap individu.
Dari urian diatas menggunakan alat-alat peraga (media) dan berbagai metode mengajar menjadi salah satu faktor untuk membangkitkan motivasi. Namun kunci pokok dalam pembahasan diatas adalah untuk menarik perhatian anak. Potensi besar kemampuan perhatian jika sudah teraih secara otomatis dan nyata. Peran aktif anak didik dalam kegiatan pembelajaran akan menjadi penting sebab dengan iku mengalami proses anak akan lebih paham. Motivasi minimal memperhatikanpun sudah menjadi integrasi antara media dan indra. media menjadi menarik jika media itu sendiri dapat menyenangkan anak. Peranan media audiovisual tentunya akan meningkatkan perhatian sebab melibatkan beberapa indra dan menanamkan pesan secara terpadu dan menyenangkan.

2. Menghafal surat surat pendek dalam Pendidikan Agama Islam
a. Pengertian menghafal
Dalam kegiatan pembelajaran menghafal merupakan salah satu cara yang selalu dan sering dilakukan. Bermacam materi pembelajaran banyak harus dipelajari dengan tindakan menghafal. Seorang anak dapat berbicara dengan bahasa orang disekitar merupakan salah satu hasil dari dia mendengar dan anak menghafalnya. Secara sengaja maupun tidak menghafal menjadi salah satu cara yang paling efektif dan praktis dan cepat dilakukan oleh otak. Dari segi kebahasaan menghafal berasal dari kata “hafal” ditambah dengan awalan kata “me”( tindakan melakukan), menghafal adalah berusaha meresapkan kedalam pikiran agar selalu ingat (tidak lupa).
Perlu dipahami bahwa kegiatan menghafal berkaitan erat dengan mengingat (daya ingat). Daya ingat merupakan bakat anugrah Allah SWT dimana masing- masing anak tentunya tidak ada yang sama setara daya ingatnya. Sa’ad Riyadh menyatakan bahwa menghafal Al Qur'an erat kaitannya dengan daya ingat seseorang dan juga sangat tergantung dengan kemampuan akal seseorang. Sedangkan kekuatan daya ingat seseorang tergantung pada daya tangkapnya terhadap apa yang disampaikan. Daya tangkap seseorang juga berkaitan dengan daya tangkap seseorang berkaitan pula dengan daya simpan memori otaknya.
Menurut Klages dalam Soemadi menyatakan menghafal berkaitan dengan mengingat, hafalan berhubungan dengan daya mengenang atau mengingat kembali. Secara terpisah Klages membedakan antara keduanya ingatan (gedachnis, geheugen, memory) yaitu suatu kenyataan vital, daya untuk mengingat kembali kesan-kesan dan membandingkan kesan-kesan yang lama serta yang baru. Tanpa ingatan maka maka orang tak akan dapat mengenal kembali sesuatu, tidak mempunyai kebiasaan tingkah laku, tidak akan mengenal perubahan-perubahan serta harapan. Tidak akan mengenangkan gambaran yang keliru karena adanya jarak waktu.
Dengan kemampuan memori otak yang dimiliki anak anak akan mampu untuk mengenang kesan (surat-surat pendek). Dengan latihan peningkatan konsentrasi atau perhatian akan meningkatkan daya tangkap materi ajar. Kemampuan mengenang kembali materi hafal menjadi tujuan kompetensi yang diharapkan dari pembelajaran agama Islam. Kegiatan untuk hafal menjadi dasar latihan daya ingat, ingatan yang dimiliki anak diharapkan menjadi kesan-kesan yang lama tetap terkenang, dan materi hafalan anak akan semakin banyak dan meningkat kuantitasnya.




b. Materi hafalan surat-surat pendek dalam Pendidikan Agama Islam
Menghafal merupakan kegiatan yang dilaksanakan dan hafalan merupakan kompetensi yang diharapkan. Hafalan surat-surat pendek menjadi materi pelaksanaan pembelajaran. Untuk mengetahui seberapa banyak materi hafalan perlu adanya pengawasan hafalan. Dengan adanya agenda pengawasan akan diketahui kemampuan hafalan anak seperti yang dituliskan oleh Sa’ad Riyadh yaitu agenda dalam sepekan atau sebulan dapat diberlakukan untuk mengawasi keberlangsungan dan perkembangan hafalan Al Qur'an.
Materi hafalan surat-surat pendek adalah materi hafalan yang telah tercantum dalam kurikulum setiap satuan pendidikan. Kemampuan hafalan menjadi kompetensi yang diharapkan dalam kompetensi dasar. Dimana kompetensi dasar merupakan sejumlah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan untuk menyusun indikator kompetensi.
Kompetensi hafalan anak didik menjadi misi yang dituntut dari akhir pembelajaran. Materi hafalan merujuk pada standar kompetensi lulusan ditingkat dasar dimana pada (klausul 1, Poin a, Item 1) kompetensi lulusan harus dapat: menyebutkan, menghafal, membaca dan mengartikan surat-surat pendek dalam Al Qur'an, mulai dari surat Al Fatihah sampai Al ‘Alaq.
Surat-surat pendek yang menjadi materi hafalan merupakan surat pendek yang telah ditentukan dalam standar kompetensi lulusan pada tingkat satuan pendidikan tertentu. Anak didik belajar dan menghafal surat-surat pendek ini merupakan langkah standar yang harus dicapai. Materi yang ada merupakan tuntutan kompetensi yang menjadi misi dimiliki anak. Dengan demikian cara untuk meraih tujuan tersebut diserahkan pada satuan pendidikan untuk menentukan langkah dalam upaya mencapai standar yang telah ditentukan.

3. Peranan motivasi terhadap kegiatan menghafal
Kemampuan guru dalam membangkitkan motivasi menjadi berperan penting dalam upaya meningkatkan kemampuan hafalan anak didik. Motivasi merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dalam prinsip pembelajaran. Motivasi merupakan energi penggerak, pendorong aktivitas. Rasa memiliki tujuan belajar menjadi salah satu prinsip untuk dapat tumbuhnya motivasi. Dorongan yan dirasakan secara sengaja atau tidak otak akan merespon dan mengikuti irama rangsangan. Ketertarikan dan rasa terhibur pun sangan mendukung otak untuk merespon rangsangan.
Rasa memiliki tujuan berkaitan erat dengan dorongan kemanfaatan bagi diri anak didik, sesuatu yang dirasa akan membawa manfaat bagi diri akan mendorong anak untuk mengikuti proses dan akhirnya akan mempunyai rasa memiliki. Bobbi De Porter dan Mike Hernacki menyebutkan motivasi yang berasal dari pengalaman mental dengan “AMBAK” yang merupakan singkatan dari “Apa Manfaatnya BagiKu?...dalam banyak hal menemukan AMBAK sama saja dengan menciptakan minat, menciptakan minat merupakan sesuatu yang paling sulit, namun ketika minat ini telah terbentuk subjek akan menemukan sesuatu yang menarik bagi dirinya.
Sesuatu rasa dari dalam diri yang menarik menjadi dasar yang pertama untuk dapat menumbuhkan minat. Dengan minat yang tumbuh akan terbentuk motiv, dorongan motiv membangkitkan cara untuk mencapai. Cara mencapai motiv yang tiap anak berbeda-beda tergantung dari daya tangkap terhadap rangsang. Bobbi De Porter dan Mike Hernacki menambahkan bahwa menciptakan minat semacam ini merupakan jalan yang sangat baik untuk memotivasi diri demi mencapai tujuan. Menciptakan minat tergantung pada berbagai hal dalam kehidupan. Jadi masing-masing orang akan melakukan dengan cara yang agak berbeda.
Menghafal berkaitan erat dengn mengingat, dalam prosesnya mengingat berproses secara bertahap demi tahap, indra berperan penuh dalam menerima rangsang. Tahapan yang dilalui dari setiap tahap terekam dalam memori otak, berbagai faktor dapat mempengaruhi dan berperan dalam upaya menghafal ini. Motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik bisa menjadi faktor penentu keberhasilan dalam menghafal. Minat terhadap menghafal menjadikan subyek berusaha untuk meresapkan sedemikian rupa materi. Rangsangan yang menyenangkan dan pengulangan yang sering dilakukan akan memperkuat hafalan. Penciptaan suasana yang menyenangkan menjadi penting untuk meningkatkan minat dan kegiatan menghafal menjadi menyenangkan serta bisa menjadi sesuatu untuk mencapai kepuasan diri. Suasana yang mendukung dalam proses menghafal menjadi pencipta daya dukung sebab perasaan sangat mempengaruhi dalam menghafal. Bobbi De Porter dan Mike Hernacki menyatakan jika belajar melibatkan konteks emosional (rasa cinta, kebahagiaan dan kesedihan) akan menjadi kesan yang mengendap kuat dalam memori.
Dengan menciptakan suasana yang menyenangkan dan kebahagiaan akan membuat anak didik mempunyai minat yang positif menyenangkan. Dengan kebahagiaan yang dia miliki menghafal menjadi menyenangkan dan tidak dirasakan sebagai suatu yang menyakitkan yang membuat anak sedih. Kecintaan terhadap kegiatan menghafal harus dimiliki sebelum anak melakukan kegiatan menghafal. Sa’ad Riyadh menyatakan: langkah pertama adalah menumbuhkan kecintaan terhadap Al Qur'an...tahap kedua membuat program kegiatan khusus dan ... tahap ketiga membuat kegiatan yang menantang (perlombaan) dengan kegiatan ini akan meningkatkan hafalan.
Berawal dari cinta anak terhadap Al Qur'an dengan diprogram dalam pembelajaran yang terencana, dengan melibatkan lingkungan sekitar dengan berbagai persaingan akan menjadikan anak untuk termotivasi dengan sendirinya. Cinta merupakan motiv dari dalam diri, dengan cinta akan semangat akan terpelihara. Untuk meraih cinta jalan yang sulit akan terasa mudah dan menyenangkan. Perjalanan yang sulit dengan ditemani cinta akan menyenangkan.

B. Langkah-Langkah Pembelajaran Dengan Media Audio Visual Di Kelas
Dalam sistem pembelajaran modern saat ini, siswa tidak hanya berperan sebagai komunikan atau penerima pesan, bisa saja siswa bertindak sebagai komunikator atau penyampai pesan. Sehingga dalam pembelajaran terjadi komunikasi dua arah (two way traffic communication) bahkan bisa terjadi komunikasi banyak arah (multi way trafic communication). Dalam bentuk komunikasi pembelajaran manapun sangat dibutuhkan media untuk lebih meningkatkan tingkat keefektifan pencapaian tujuan (kompetensi harapan). Artinya proses pembelajaran tersebut terjadi apabila ada komunikasi antara penerima pesan dengan sumber/penyalur pesan lewat media tersebut. Berlo dalam Sri Anitah menyebutkan: komunikasi tersebut akan efektif jika ditandai dengan adanya area of experience atau daerah pengalaman yang sama antara penyalur pesan dengan penerima pesan.



Gambar 1. Daerah Pengalaman Antara Guru dan Siswa
Pada gambar 1 menunjukan kepada kita bahwa media pembelajaran (M) dapat memperluas area of experience guru (G) sebagai sumber atau penyalur pesan dan siswa (S) sebagai penerima pesan. Daerah pengalaman pada gambar tersebut ditandai dengan bagian elips semakin meluas dapat dikatakan komunikasi semakin efektif. Namun reaksi tersebut baru bisa terjadi setelah ada balikan (B). Dalam hal ini penerima pesan berubah fungsi menjadi sumber pesan.
1. Pengertian media audio visual
a. Hakikat media dalam pembelajaran
Media pembelajaran yang dirancang dengan baik dapat merangsang timbulnya proses atau dialog mental pada diri siswa. Sebuah aktifitas memberi dan menerima stimulan shofware/materi ajar melalui sebuah perangkat yang disiapkan. Perangkat menyampaikan pesan setelah dirancang dengan kualifikasi yang diinginkan pembuat pesan. Media menjadi jendela yang dapat diakses oleh penerima pesan. Penerima pesan mengambil pesan dan mengolahnya sesuai daya serap masing-masing. Dalam proses ini akan terbentuk kesan (perubahan tingkah laku) sesuai harapan pembuat pesan, bisa juga pesan diterima namun hasil kesan tidak sesuai harapan pembuat pesan.
Dengan kata lain dengan media akan menyebabkan terjadinya komunikasi antara siswa dengan media atau secara tidak langsung tentunya antara siswa dengan penyalur pesan (guru). Dengan kondisi seperti ini maka proses pembelajaran telah terjadi. Media tersebut berhasil menyalurkan pesan/bahan ajar apabila kemudian terjadi perubahan tingkah laku (behavioral change) pada diri anak didik.
Media dalam aktifitas pembelajaran mempunyai peranan yang penting dan dapat menentukan ketercapaian tujuan pembelajaran. Dengan media akan membantu alat indra yang terlibat dalam pembelajaran. Keterkaitan dengan indra dalam membantu daya ingat, sangat tergantung dengan indra mana yang dominan dan dirangsang berperan dan dilibatkan dalam aktifitas belajar. Sri Anitah menggambarkan pada grafik gambar 2. Grafik tersebut menunjukkan hubungan antara jumlah pengetahuan yang dpat diingat dengan jenis rangsangan terhadap indra. Grafik tersebut adalah sebagai berikut:

Gambar 2
Hubungan Jumlah Pengetahuan yang Dapat diingat dengan jenis rangsangan terhadap indra manusia

Rangsangan terhadap indra auditori, visual dan audiovisual, menunjukan adanya perbedaan pengendapan (ingatan) dalam waktu 3 jam penggunaan media audiovisual menunjukan grafik tingkat keteringatan mencapai 80 sedangkan dengan audio menunjukan grafik keteringatan terendah mencapai tingkat 60. Dalam waktu 3 hari rangsangan dengan audiovisual grafik mencapai 60. Rangsangan visual menunjukan grafik keteringatan mencapai 20, dan auditori mencapai tingkat 10 terendah dari kedua rangsangan tersebut. Jadi dengan menggunakan media audiovisual menjadikan keteringatan lebih optimal dari pada media visual dan auditori. Oleh karena itu, dalam pembelajaran sebaiknya penyampaian bahan ajar diberikan baik melalui pendengaran maupun penglihatan sekaligus, bahkan apabila memungkinkan dan diperlukan juga memberi rangsangan melalui indra-indra yang lain.
Media dalam pembelajaran dibagi dalam tiga jenis, Sri Anitah menyebutkan tiga jenis media tersebut Yaitu: media visual, media audio dan media audio visual...setiap media memiliki karakteristik (kelebihan dan keterbatasan), oleh karena itu tidak ada media yang dapat digunakan untuk semua situasi atau tujuan, media mana yang akan digunakan tergantung kepada kompetensi/tujuan yang ingin dicapai, sifat bahan ajar, kertersediaan media tersebut, dan kemampuan guru dalam menggunakannya.
b. Media audiovisual sebagai alat pembelajaran
Media audio visual merupakan kombinasi audio dan visual dapat dikatakan media ini merupakan media pandang dan dengar. Sudah barang tentu apabila kita menggunakan media ini tentunya akan semakin lengkap dan optimal dalam penyajian bahan ajar kepada siswa. Dalam batas tertentu media audio visual dapat menggantikan peran dan tugas guru. Dalam kegiatan ini guru tidak selalu berperan sebagai penyaji materi (teacher), tapi penyajian materi bisa diganti oleh media audio visual maka peran guru bisa beralih menjadi fasilitator belajar, yaitu guru memberikan kemudahan bagi para siswa untuk belajar.
Penggunaan media pembelajaran bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi memiliki fungsi tersendiri sebagai sarana bantu untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang lebih efektif. Kedudukan media menjadi bagian integral dari keseluruhan proses pembelajaran. Media pembelajaran sebagai salah satu komponen yang tidak berdiri sendiri tetapi saling berhubungan dengan komponen lain dalam rangka menciptakan situasi belajar yang diharapkan.
Pengalaman-pengalaman yang melibatkan penglihatan, bunyi, sentuhan, rasa atau gerakan umumnya sangat jelas dalam memori kita. Dan jika menyangkut lebih dari satu indra, suatu pengalaman bahkan menjadi lebih mudah diingat. Dengan demikian apabila dalam proses pembelajaran menggunakan media yang bisa melibatkan berbagai indra dalam proses belajar, kemampuan ingatan akan semakin meningkat.
Dalam Sri Anitah menyebutkan peranan media audiovisual dalam pembelajaran, yaitu:
1) Memungkinkan siswa berinteraksi secara langsung dengan lingkungannya
2) Memungkinkan adaya keseragaman pengamatan atau persepsi pad masing masing siswa
3) Membangkitkan motivasi belajar siswa
4) Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan
5) Menyajikan pesan atau informasi belajar secara serempak bagi seluruh siswa
6) Mengatasi keterbatasan waktu dan ruang
7) Mengontrol arah dan kecepatan belajar siswa.
Dari beberapa kutipan diatas peranan media dalam pembelajaran merupakan suatu kebutuhan integratif, tidak sebagai pelengkap namun merupakan perpaduan yang tidak terpisahkan antara pesan dan ketercapaian perhatian yang mengarah pada kompetensi tujuan pembelajaran. Tidak ada pembelajaran efektif tanpa peran media. Tercapai tidaknya kompetensi secara optimal terkait penggunaan media pembelajaran yang tepat. Proses pembelajaran ada, maka media menjadi penggeraknya. Jika digambarkan pembelajaran adalah mobil, visi adalah sebagai nyawa, roda adalah pengantar untuk mencapai sasaran (visi).

2. Langkah-langkah pembelajaran dengan media audiovisual
Dalam memanfaatkan media dalam pembelajaran tidak terlepas dari aktifitas pemahaman, tujuan kompetensi dan kecenderungan siswa. Modalitas dan kecenderungan kemampuan indra anak didik menjadi penting untuk dapat memilih dan menentukan media yang tepat dalam upaya menyampaikan pesan dengan media yang dipilih. Kesiapan saran menjadi modal yang tidak bisa diabaikan, juga kemampuan operasional guru sebagai fasilitator juga perlu diperhatikan, sebab dalam kegiatan memfasilitasi bisa menjadi berubah dan mengganggu proses pembelajaran jika kemampuan mengoperasikan media audio visual belum memadai. Sekalipun hal ini dapat diatasi dengan mengambil operator yang paham, namun hal ini tentunya menambah deret panjang persiapan.
Guru sebagai pengelola pesan harus benar paham media audio visual yang akan ditayangkan sebab tentunya pengulangan terhadap satu atau beberapa pesan perlu segera dilakukan untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Interaksi aktif dalam kegiatan belajar materi terhadap media audio visual ini dalam Sri Anitah menyatakan: guru berperan penting dalam menciptakan dan menentukan stimulus respon pembelajaran. Kencenderungan anak kelas rendah masih relatif kurang terfokus dalam konsentrasi, kecepatan belajar dan aktifitas belajar sehingga menuntut kegigihan guru untuk mengupayakan pembelajaran ke arah proses belajar (mengulang menjadi salah satu upaya mencapai proses belajar yang efektif).
Dalam penggunaan media audio visual dalam pembelajaran Sri Anitah memberi pertimbangan dalam memilih media yaitu:
1. Tujuan pemilihan media
Memilih media pembelajaran yang akan digunakan harus berdasarkan tujuan pemilihan yang jelas. Pertimbangan dasar media audio visual tidak hanya media penghibur namun sedapat mungkin efektif dalam menyampaikan pesan. Juga perlu dipertimbangkan siapa yang menjadi objek pembelajaran individual atau kelompok (klasikal).
2. Karakteristik media pembelajaran
Setiap media mempunyai karakteristik tersendiri, dari segi keandalan, cara pembuatannya maupun cara penggunaannya. Pemahaman terhadap karakteristk dasar media menjadi dasar memilik media.
3. Alternatif media pembelajaran yang dipilih
Memilih media merupakan proses mengambil atau menentukan keputusan dari berbagai pilihan. Supaya media pembelajaran yang dipilih itu tepat, selain anda harus mempertimbangkan ketiga hal tersebut perlu juga mempertimbangkan beberapa faktor berikut ini:
a. Rencana pembelajaran, dalam membuat rencana pembelajaran atau satuan pembelajaran, harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
b. Sasaran belajar, yang menjadi sasaran belajar tentunya anak didik sebagai objek pembelajaran. Media harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa.
c. Tingkat keterbacaan media (relibility), media tersebut sudah memenuhi syarat-syarat teknis, seperti kejelasan gambar, huruf dan pengaturan warna.
d. Objektivitas, media harus sedapat mungkin terhindar dari pemilihan yang didasari kesenangan pribadi semata (subyektifitas).
Dari uraian pertimbangan diatas jelas kiranya guru untuk memahami secara mendalam pentingnya tujuan sebagi penuntun arah yang akan dicapai. Kemampuan yang dimiliki siswa baik untuk tujuan individual maupun kelompok menjadi salah satu yang harus digunakan sebagai pertimbangan untuk memilih media. Orientasi objektif pada anak didik bukan berdasar pada subyektifitas, keinginan kesenangan guru sebagai fasilitator. Dengan pemahaman yang tepat yang tertuang dalam rencana pembelajaran akan semakin mudah dan efektif dalam menggunakan media audio visual saat pembelajaran berlangsung.



C. Kelebihan Media Audio Visual Dalam Mengatasi Kesulitan Menghafal
1. Kesulitan menghafal
Anak berkebutuhan khusus merupakan istilah baru yang muncul dalam dunia pendidikan, sejak beberapa dekade yang lalu telah dilakukan pemisahan terhadap anak-anak yang tergolong dalam istilah tersebut, seperti adanya satu kelompok belajar khusus bagi mereka. Sebenarnya banyak anak-anak yang termasuk di dalamnya juga memiliki kemampuan berfikir seperti sebagaimana anak-anak yang normal lainnya. Bahkan ada juga yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Namun kenyataan yang ada anak-anak benar-benar mengalami kesulitan yang jelas dalam proses menstransfer kemampuan dasar belajar seperti mendengar (listening), atau membaca (reading), atau menulis(writing) atau dalam matematika mereka.
Kelainan merupakan masalah pribadi yang sangat mendasar, dan kemungkinan hal tersebut terjadi karena pengaruh dari adanya gangguan pada fungsi syaraf. Pada umumnya sering terjadi diiringi adanya gangguan yang lain, seperti gangguan pendengaran, penglihatan, lambat berfikir, gangguan emosional ataupun sosial. Dengan kondisi yang ada pada anak didik mereka akan mengalami kesulitan dalam menghafal secara manual, mereka memerlukan strategi khusus supaya tujuan kompetensi dapat tercapai.
Gangguan yang lain bisa saja terjadi seperti pengaruh lingkungan budaya, metode pembelajaran yang kurang tepat. Namun apabila hal ini terjadi dan anak didik mengalami kesulitan dalam mengikuti pembelajaran ini bukan penyebab kesulitan karena berkebutuhan khusus. Perlu dipahami kesulitan dalam belajar termasuk suatu kendala yang tidak bisa begitu saja. Sehingga jangan serta merta memberikan hukuman jika mereka kesulitan dalam menghafal Al Qur'an.
Kesulitan menghafal berkaitan dengan penulisan ini yaitu bagi anak tunagrahita ringan mereka anak yang secara nyata terbelakang mental merupakan kondisi dimana perkembangan kecerdasanya mengalami hambatan, sehingga tidak mencapai tahap perkembangan yang optimal. Sutjihati Somantri menyatakan beberapa karakteristik umum anak tunagrahita yang dapat menjadi pertimbangan seperti:
a) Keterbatasan intelegensi
Intelegensi merupakan fungsi yang kompleks yang dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mempelajari informasi dan keterampilan-keterampilan menyesuaikan diri dengan masalah-masalah dan situasi-situasi kehidupan baru, belajar dari pengalaman masa lalu, berfikir abstrak, kreatif, dapat menilai kritis, menghindari kesalahan-kesalahan, mengatasi kesulitan dan kemampuan merencanakan masa depan. Anak tunagrahita memiliki kekurangan dalam semua hal diatas.
b) Keterbatasan sosial
Disamping keterbatasan intelegensi, anak tunagrahita juga memiliki kesulitan dalam mengurus diri sendiri dalam masyarakat, oleh karena itu mereka memerlukan bantuan, mereka mudah dipengaruhi, dan cenderung melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya.
c) Keterbatasan fungsi-fungsi mental lainnya
Anak tunagrahita memerlukan waktu lebih lama untuk melaksanakan reaksi pada situasi yang baru dikenalnya. Mereka memperlihatkan reaksi terbaiknya bila mengikuti hal-hal yang rutin yang secara konsisten dialaminya dari hari kehari. Anak tidak dapat menghadapi sesuatu kegiatan atau tugas dalam jangka waktu yang lama.
Anak tunagrahita karena kecerdasannya mengalami kesulitan mempelajari informasi dan keterampilan-keterampilan menyesuaikan diri dengan masalah-masalah dan situasi-situasi kehidupan baru, belajar dari pengalaman masa lalu, berfikir abstrak, kreatif, dapat menilai kritis, menghindari kesalahan-kesalahan, mengatasi kesulitan dan kemampuan merencanakan masa depan.
Anak tunagrahita sekalipun dengan kelemahan yang nyata diatas, mereka masih mempunyai potensi yang dapat dikembangkan seperti mereka mudah dipengaruhi serta mereka melakukan tanpa dengan pertimbangan sekalipun ini potensi negatif namun dengan cara yang benar dengan suport positif bisa menjadi potensi yang potensial. Anak tunagrahita memperlihatkan reaksi terbaiknya bila mengikuti hal-hal yang rutin yang secara konsisten dialaminya dari hari kehari, dengan pengulangan yang kontinyu anak dapat berkembang kearah yang baik dan mendekati kompetensi yang diharapkan sesuyai tujuan pembelajaran.

2. Kelebihan media audiovisual dalam mengatasi kesulitan menghafal
a. Kelebihan media audiovisual
Media audio visual adalah perpaduan antara media audio berupa media dengar dan media visual berupa gambar atau film yang keduanya mempunyai keterkaitan satu sama lain. Penggunaan media audio visual ini disesuaikan dengan materi pembelajaran dimana tujuan akhir dari penggunaan media adalah upaya mengurangi kesulitan pemahaman anak dalam memahami suatu materi.
Dengan menggunakan media audio visual ini akan meningkatkan perhatian anak dan motivasi untuk mengikuti pembelajaran meningkat. Dengan perhatian yang meningkat maka harapan yang ingin dicapai yaitu anak dari melihat anak dapat mengikuti/ membaca, dengan kegiatan membaca yang berulang-ulang anak akan menjadi hafal. Dalam pembelajaran ini melibatkan tiga indra untuk menerima suatu materi, indra penglihatan untuk menerima pesan visual berupa gambar/filem, media dengar untuk menerima informasi dari suara yang diterima, serta media ucap untuk membaca dan mengucap materi secara berulang.
Dari uraian diatas dijelaskan lebih rinci oleh Colin Rose dalam “Accelerated Learning For 21 Century” dalam Sofyan Ramady dan Dodi Purwanto menyatakan kemampuan ingatan sangat tergantung pada indra yang terlibat dan berperan dalam proses belajar. Kita akan mengingat 20 % dari yang dibaca, 30 % dari yang didengar, 40 % dari yang dilihat, 50 % dari apa yang dikatakan, 60 % dari apa yang dikerjakan dan 90% akan ingat jika suatu materi dapat dilihat, didengar, dikatakan serta kerjakan.
Dari pendapat diatas apabila kegiatan pembelajaran dapat melibatkan 4 indra penglihatan, pendengaran, ucap dan aktifitas gerak akan meningkatkan daya ingat mencapai 90 %. Sehingga materi benar-benar terserap dan teringat secara optimal. Penyajian yang melibatkan berbagai sensori yang terintegrasi dan tidak terpisahkan akan meningkatkan efektifitas ketercapaian tujuan pembelajaran. Kegiatan yang dilaksanakan merupakan pengulangan, dengan pengulangan yang dilakukan kemampuan menghafal akan meningkat.
Keunggulan media audio visual dalam pembelajaran secara rinci disampaikan Kemp dan Dayton (1985) dalam Rudi Susilowati dan Cepy Riyana, bahwa media audio visual:
1) Menyampaikan pesan pembelajaran dapat lebih standar.
2) Pembelajaran lebih menarik
3) Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar.
4) Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek.
5) Efektifitas dalam mengatasi kesulitan dapat ditingkatkan.

b. Hubungan media audiovisual dengan kegiatan menghafal
Belajar dengan media audio visual menjadi menarik bagi anak dengan tingkat kecerdasan anak tunagrahita ringan dengan banyaknya kekurangan yang dimiliki, akan cenderung mudah lupa, cepat bosan, jika materi hanya disampaikan secara verbal hanya melibatkan indra dengar, dan tulisan melibatkan indra visual dimana satu sama lain aktifitasnya terpisah. Anak harus belajar membaca, sampai anak lancar membaca baru proses menghafal dimulai sedangkan dengan menggunakan media audio visual 3 proses berjalan beriring, melihat gambar/film, mendengar bunyinya dan mengucap secara bersamaan.
Pembelajaran menggunakan media audio visual menjadi kegiatan belajar yang menyenangkan bagi anak. Dengan senang kegiatan menjadi bermakna, yang kebermaknaan sangat tergantung dari harapan anak. Ada anak yang hanya ingin melihat film karena bagus, karena suasananya yang menghibur, hal ini sangat tergantung dari motiv yang dibentuk siswa. Tak lepas dengan kebermaknaan bagi diri anak didik Lukmanul Hakim menambahkan bahwa pada umumnya seseorang terdorong untuk melakukan suatu kegiatan betapapun beratnya jika kegiatan ini mempunyai makna bagi dirinya sendiri. Jika materi pembelajaran dipelajari itu dirasakan mempunyai makna bagi dirinya. Akan tumbuh dalam dirinya untuk terus melakukan kegiatan belajar.
Dalam penggunaan media audio visual juga dimulai dari identifikasi kebutuhan dan karakteristik siswa, media digunakan berdasarkan pada kebutuhan (need) apakah kebutuhan itu?. Kebutuhan berada diantara kesenjangan (gap)/ ketidaksesuaian antara apa yang seharusnya (harapan) dengan apa yang terjadi. Kondisi anak didik dengan ketunagrahitaannya, tujuan suatu materi akan sulit dicapai sesuai harapan, jika materi hanya disampaikan secara verbal. Kegiatan menghafal yang disampaikan secara verbal bagi anak merupakan kegiatan yang kurang diminati, sehingga menghafal menjadi kurang menyenangkan bagi mereka. Anak belajar dengan suasana yang tidak disenangi dan menggembirakan tentunya berpengaruh juga pada hasil ketercapaian tujuan pembelajaran.
Media audio visual mengatasi gap antara kenyataan kondisi anak didik dengan tuntutan yang materi hafalan. Peranan media audio visual yang tepat dapat mengatasi juga mengefektifkan proses pembelajaran. Anak didik terbantu dengan keberadaan media, kemampuan media menyatukan dan merangsang indra anak dengan ketunagrahitaan menjadikan media menjadi penting bagi anak. Kekurangan yang dimiliki anak akan tergantikan dengan fungsi media yang tepat.
Dengan media audio visual dalam pembelajaran siswa akan berminat dengan perhatian yang terfokus pada media, harapan kebermaknaan dalam proses pembelajaran meningkat. Kegiatan menghafal menggunakan media audio visual ini akan lebih meningkatkan hafalan visual maupun hafalan pada isi materi. Kelebihan lain yaitu penyampaian materi pembelajaran menjadi lebih mudah diulang sesuai kebutuhan. Pengulangan materi yang sama dan kontinyu secara otomatis akan meningkatkan hafalan anak.

DASAR PEMIKIRAN DRILL BAB 2

BAB II.
PENERAPAN METODE DRILL DALAM MENGHAFAL
SURAT SURAT PENDEK


A. Metode Pembelajaran Drill
Bila kita berbicara mengenai metode pembelajaran, banyak sekali metode yang tentunya telah teruji tingkat keberhasilannya dalam menghantarkan untuk tercapainya kompetensi tujuan pembelajaran. Salah satu metode yang dibicarakan disini adalah metode drill. Dalam aktivitas pembelajaran anak merupakan individu berproses mencapai keberhasilan, tahapan dalam mencapai keberhasilan tersebut dilalui dengan suatu proses panjang secara bertahap sedikit demi sedikit. Kerumitan materi pembelajaran semakin meningkat sesuai dengan perkembangan serta kematangan usia mental anak. Dengan metode yang tepat maka metode pembelajaran akan meningkatkan keefektifan proses pembelajaran, sedemikian rupa membantu mengurai kerumitan materi.
Ketidaktepatan dalam penerapan metode secara praktis akan menghambat proses belajar mengajar yang akan membuang waktu dan tenaga secara percuma. Karena metode merupakan salah satu syarat untuk mencapai efisiensi aktifitas pembelajaran. Metode termasuk persoalan yang esensial, karena tujuan pendidikan Islam itu akan tercapai secara tepat guna manakala jalan yang ditempuh untuk menuju cita-cita tersebut benar-benar tepat.
Perlu ditekankan bahwa penggunaan metode dalam pendidikan Islam pada prinsipnya adalah pelaksanaan kehati-hatian dalam kegiatan mendidik dan mengajar. Mengingat bahwa sasaran pendidikan adalah manusia yang telah memiliki kemampuan dasar untuk dikembangkan. Sikap kurang hati-hati dapat berakibat fatal sehingga mungkin saja kemampuan dasar yang sudah dimiliki peserta didik tidak berkembang secara wajar. Lebih fatal lagi dapat menyalahi hukum-hukum dan arah perkembangan.

1. Pengertian pembelajaran
Pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dengan kata lain pembelajaran adalah aktifitas yang bersifat aktif dan berkolaborasi antara peserta didik, pendidik dan tidak terlepas adanya sumber yang dijadikan kunci pokok ajar, kegiatan tersebut dilakukan dalam satu lingkungan yang tersistem dan mendukung proses belajar mengajar.
Menurut Sumitro proses pembelajaran adalah aktifitas pendidikan dimana didalamnya mengandung transformasi pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan, proses ini bisa terjadi di dalam dan di luar sekolah serta kegiatannya bisa berlangsung sepanjang hayat (life long procces), dari generasi ke generasi, didalamnya terjadi proses belajar dan mengajar.
Dalam kegiatan pembelajaran terdapat aktifitas dan interaksi yang bersifat mutlak yaitu adanya interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Lingkungan belajar merupakan suatu sistem yang terdiri dari unsur tujuan, bahan pelajaran, strategi, alat, siswa dan guru, semua unsur atau komponen tersebut saling berkaitan, saling mempengaruhi dan semuanya berfungsi dengan berorientasi pada tujuan. Pembelajaran lebih bersifat aktif dimana semua komponen ini saling melengkapi satu sama lain serta visi yang di bawa adalah mencapai tujuan pembelajaran itu sendiri.

2. Pengertian metode drill
Pembahasan metode drill sebagai bahan kajian inti dari penulisan, perlu diperjelas bahwa metode itu sendiri merupakan cara yang digunakan guru dalam membelajarkan siswa agar terjadi interaksi dan proses belajar yang efektif dalam pembelajaran. Setiap mengajar memiliki karakteristik yang berbeda-beda dalam membentuk pengalaman belajar siswa tetapi satu dengan yang lain saling menunjang.
Teknis pelaksanaan metode dalam pembelajaran dalam Samsul Nizar menyebutkan, sebagai berikut:
a. Sesuatu prosedur yang dipakai untuk mencapai suatu tujuan
b. Sesuatu teknik mengetahui yang dipakai dalam proses mencari ilmu pengetahuan dari suatu materi tertentu.
c. Suatu ilmu yang merumuskan aturan-aturan dari suatu prosedur.
Metode adalah prosedur tertentu yang digunakan untuk mencapai tujuan. Proses yang harus dilakukan merupakan rangkaian stimulasi yang tersistem dalam satu bingkai aktifitas pembelajaran. Keterkaitan terpadu empat komponen dasar pembelajaran siswa, pengajar, bahan belajar dan metode akan dapat mengantar pada tujuan pendidikan yang diinginkan. Suatu metode tidak hanya akan mampu mengantarkan pada ketercapaian satu tujuan namun bisa mempunyai fungsi ganda atau dobel. Ketercapaian hasil dengan prestasi yang meningkat juga pengalaman anak didik dan guru bisa menjadi sasaran sampingan dari penggunaan suatu metode.
Secara essensial dalam Samsul Nizar metode sebagai alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan mempunyai fungsi ganda:
a. Polipragmatis, yaitu manakala metode itu mengandung kegunaan yang serba ganda (multi purpose). Misalnya metode tertentu pada suatu situasi dapat dipergunakan untuk merusak, pada situasi dan kondisi yang lain dapat digunakan untuk membangun maupun memperbaiki.
b. Monopragmatis, yaitu alat hanya dapat dipergunakan untuk mencapai satu macam tujuan.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran maupun untuk membentuk kemampuan siswa diperlukan metode mengajar yang efektif. Pengajar dalam menggunakan suatu metode dalam pembelajaran perlu menyampaikan metode itu sendiri dan menjelaskan pula bagaimana suatu metode itu harus dilaksanakan. Sekalipun nama metode anak tidak dirasa perlu menggetahui tetapi, cara dan teknik yang dilakukan anak mesti mengerti dan memahami, disini peran guru menjadi penting untuk menjelaskan dan menyampaikan cara yang harus dilakukan oleh siswa. Hal ini diperkuat oleh Sri Anitah bahwa metode mengajar ini bukan hanya harus dikuasai oleh guru tetapi juga harus dikuasai oleh murid itu sendiri.
Metode dipilih dan ditentukan oleh guru dimana guru dapat menentukan metode yang dianggap sesuai dan efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran pembentukan kompetensi siswa. Dalam Sri Anitah untuk memudahkan pemilihan metode mengajar, guru harus memahami tujuan pembelajaran maupun kompetensi yang akan dimiliki siswa, guru juga harus memahami karakteristik metode mengajar yang akan dipilih sekaligus memahami dampak dari metode tersebut. Pertimbangan yang lain juga menjadi landasan pemilihan seperti alokasi waktu dan fasilitas penunjang pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran bermacam komponen membentuk sistem pergerakan untuk mencapai perubahan, bermacam komponen menjadi sinergis apabila satu sama lain mendukung dan berkolaboratif secara aktif. Hambatan disalah satu komponen bisa menyebabkan adanya gangguan sehingga pembelajaran tidak berjalan efektif. Sumitro menyatakan Interaksi aktif antar komponen pembelajaran dapat digambarkan dengan diagram berikut:

Gambar 1. Diagram Interaksi Antar Komponen Pembelajaran
Pemilihan metode yang tepat dalam membelajarkan suatu materi akan menjadikan suatu proses pembelajaran menjadi efektif, tujuan pembelajaran menjadi lebih mudah tercapai. Demikian pula memilih metode drill disini menjadi tepat dan efektif jika suatu tujuan dan kompetensi pembelajaran telah diketahui. Pengertian metode drill itu sendiri dari segi kebahasaan adalah metode latihan atau metode “training” yang merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu.
Mananamkan kebiasaan yang benar pada anak dengan usia yang belia tidak mudah. Pengulangan, penekanan, evaluasi harus sering dilakukan sebab anak terutama anak usia sekolah dasar memiliki dunia sendiri yang mengasikkan bagi mereka. Aktifitas motorik yang tinggi menjadikan aktifitas kognitif akademis dapat tertekan, terlupakan, menanamkan kepedulian, motivasi, dan tekad untuk mempunyai kebiasaan yang benar perlu dilakukan secara kontinyu, dengan sistematika proses yang panjang, konsisten dan berulang.
Metode latihan sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang telah nyata diterima. Selain itu metode juga dapat digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan, kesempurnaan dan keterampilan latihan tentang sesuatu yang dipelajari. Dengan melakukan secara praktis pengetahuan tersebut dapat disempurnakan dan dikembangkan. Dengan demikian metode latihan bukan hanya sekedar melaksanakan latihan secara membabi buta, bukan hanya asal mengulang, tetapi melaksanakan latihan dengan pengertian yang mempunyai tujuan tertentu.

Latihan yang dilaksanakan murid ini merupakan latihan yang sudah terencana yang tersistem dengan secara kolaboratif berkaitan erat dengan berbagai komponen kegiatan belajar. Kegiatan yang berkesinambungan dan terpadu dalam mencapai ketangkasan, kesempurnaan serta keterampilan sesuai kompetensi yang menjadi program pembelajaran. Latihan yang terevaluasi dilaksanakan secara eksplisit dan sedemikian rupa terukur. Mansyur menambahkan bahwa “proses latihan harus dilaksanakan secara efektif ... ekonomis artinya waktu yang digunakan dalam latihan harus sepadan dengan hasil yang dicapai”.
Dalam pembelajaran aktifitas latihan untuk mencapai ketepatan, ketangkasan dan keterampilan merupakan langkah yang harus dilakukan sebelum anak mengaktualisasikan kemampuan. Kepercayaan diri akan muncul apabila anak memang telah menguasai dan memahami materi dengan benar. Kemampuan yang asal-asalan tentunya akan membawa imbas pada diri anak sendiri juga lingkungan dimana anak berada.
Dalam lingkungan kelas atau sekolah, anak lain yang belum mengerti dan paham akan terpengaruhi dengan keadaan yang mereka lihat dan dengar. Dalam penguasaan suatu kompetensi ini Allah SWT menyatakan dalam Al Qur'an surat Al Qiyamah ayat 16 yang berbunyi :


      
Artinya: Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.
Berkaitan dengan keterampilan dalam menghafal perlu diasah dengan latihan-latihan sebaiknya dilakukan secara tartil. Yang dimaksud dengan tartil adalah baik sebutannya, baik sebutan hurufnya, baik mengucapkan kalimatnya, baik wakof ibtidahnya, baik murajaahnya. Dengan belajar hafalan secara benar akan membawa dampak positif bagi anak itu sendiri dan juga membawa dampak yang baik bagi lingkungan anak berada. Pada usia anak yang belia apabila suatu kemampuan dikuasai dengan benar maka pada usia-usia berikutnya akan selalu teringat. Dan keyakinan akan kebenarannya akan lebih bertahan, imbas yang dapat dilihat anak lain tingkat kepercayaan diri anak meningkat.

B. Langkah-Langkah Penerapannya Metode Drill Di Kelas
Latihan dapat dilaksanakan di dalam berbagai kegiatan belajar, baik secara lisan maupun secara tulisan, dalam bentuk mental maupun fisik. Meskipun metode ini dapat digunakan dalam berbagai kegiatan belajar, tidaklah berarti bahwa setiap kali metode ini harus dipakai dalam semua aktivitas pembelajaran. Penggunaan metode ini tergantung kepada keperluan-keperluan khusus, misalnya pembentukan kebiasaan mengerjakan sholat, membaca Al Qur'an dan sebagainya.
Dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode drill beberapa komponen yang harus disiapkan, seperti:
1. Kesiapan Langkah Pelaksanaan Metode Drill
Langkah yang dapat ditempuh dalam metode latihan (drill) terbagi dalam tiga bagian pokok, sebagai berikut:
a. Pendahuluan
Pada tahap ini perlu dipersiapkan terutama mental murid untuk menerima pelajaran yang akan disajikan kepada mereka pada langkah pelajaran inti. Hal yang harus dilakukan seperti:
1) Memberikan penjelasan seperlunya tentang suatu kegiatan yang perlu dilaksanakan dengan menggunakan metode drill. Tujuanya adalah untuk memberikan gambaran perbuatan yang perlu dicapai dengan menggunakan metode, sehingga murid memahaminya. Penggambaran itu disertai contoh-contoh perbuatan yang perlu dilaksanakan.
2) Apabila keterangan-keterangan yang diberikan telah cukup, perlu kiranya diberi latihan pendahuluan sebagai persiapan untuk melaksanakan latihan yang sesungguhnya. Guru memberikan contoh yang benar dalam bentuk gerak maupun ucapan kemudian murid menirukan.
b. Pelajaran inti
1) Murid melaksanakan latihan yang mempunyai kesukaran-kesukaran yang masih dapat diatasi oleh murid. Latihan ini diulang-ulang sampai murid benar-benar telah dapat melaksanakan gerak maupun bacaan yang menjadi materi pembelajaran dengan metode drill.
2) Mengadakan kontrol atau mengadakan koreksi terhadap latihan. Diagnosa kesalahan-kesalahan pada waktu melaksanakan tugas latihan. Bila ditemukan kesalahan langsung dianalisa, dibicarakan seperlunya diperbaiki kemudian dilatih lagi.
c. Penutup
1) Melaksanakan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahan yang dilaksanakan oleh murid.
2) Memberikan latihan penenangan.

2. Peranan Guru Dalam Pelaksanaan Metode Drill
Dalam melaksanakan metode drill, ada beberapa peranan guru yang dapat dikemukakan, diantaranya sebagai berikut:
a. Guru dapat memberi contoh kegiatan yang akan dilatih.
b. Guru selalu memperhatikan langkah-langkah yang dilaksanakan di dalam metode drill.
c. Supaya pelaksanaan metode drill lebih efektif dan tidak memboroskan waktu serta tenaga, maka guru perlu memperhatikan tingkat latihan yang perlu dicapai.
d. Guru perlu memperhatikan adanya latihan-latihan pendahuluan yang perlu diajarkan.
e. Guru perlu menghindarkan seawal mungkin kesalahan-kesalahan yang diperbuat murid.

3. Peran Murid Dalam Pelaksanaan Metode Drill
Peranan murid yang diharapkan dari metode drill, antara lain:
a. Agar murid berusaha sedemikian rupa sehingga mempunyai gambaran yang jelas bagaimana ia harus berbuat dalam latihan ini.
b. Murid perlu dengan secermat mungkin memperhatikan petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh guru terutama tentang kesalahan-kesalahan yang dilakukan.
c. Diusahakan dalam melaksanakan latihan, tidak ada keraguan pada murid.

Langkah tersebut merupakan langkah pembelajaran yang sistematis dan keruntutan proses mesti ditempuh, namun tidak boleh dilupakan motivasi bisa menjadi sangat menunjang keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Motivasi dapat berbentuk materi maupun moril. Hal ini disampaikan dalam Sa’ad Riyadh bahwa anak dalam mempelajari maupun menghafal Al Qur'an membutuhkan motivasi, baik berupa materi maupun moril. Untuk anak yang masih kecil, motivasi berbentuk materi itu lebih mengena, karena anak akan merasa segera memetik hasil dari jerih payah.
Hal yang lain yang perlu diperhatikan adalah pemilihan waktu, dimana waktu pelaksanaan menghafal dengan metode drill, perlu dijadwalkan dalam jadwal pelajaran, dimana waktu pelaksanaan menghafal harus dipilih pada waktu yang tepat. Anak dengan kondisi segar tentunya akan membantu meningkatkan kemampuan menghafal anak. Dalam pemilihan waktu ini Sa’ad Riyadh menambahkan bahwa pemilihan waktu yang tepat termasuk keterampilan yang dibutuhkan dalam proses pendidikan agar mencapai keberhasilan.
Menghafal merupakan kegiatan yang dilaksanakan dan hafalan merupakan kompetensi yang diharapkan. Hafalan surat-surat pendek menjadi materi pelaksanaan pembelajaran. Untuk mengetahui seberapa banyak materi hafalan perlu adanya pengawasan hafalan. Dengan adanya agenda pengawasan akan diketahui kemampuan hafalan anak seperti yang dituliskan oleh Sa’ad Riyadh yaitu agenda dalam sepekan atau sebulan dapat diberlakukan untuk mengawasi keberlangsungan dan perkembangan hafalan Al Qur'an.
C. Kelebihan Metode Drill Dalam Mengatasi Kesulitan Menghafal
1. Ruang Lingkup Menghafal
Menghafal merupakan salah satu cara yang selalu dan sering dilakukan dalam kegiatan belajar. Bermacam hal dalam pembelajaran berkaitan langsung dengan tindakan menghafal. Menghafal ini dilakukan tidak hanya di sekolah saat belajar dikelas saja namun disegala tempat dan bermacam hal yang tidak terbatas. Secara sengaja maupun tidak menghafal menjadi salah satu cara yang paling efektif dan praktis dan capat dilakukan oleh otak. Dari segi kebahasaan menghafal berasal dari kata “hafal” ditambah dengan awalan kata “meng”, menghafal adalah berusaha meresapkan kedalam pikiran agar selalu ingat (tidak lupa).
Dalam Sa’ad Riyadh berkaitan dengan menghafal Al Quran menghafal berkaitan erat dengan daya ingat seseorang dan juga sangat tergantung dengan kemampuan akal seseorang dan juga sangat tergantung dengan kemampuan akal seseorang. Kekuatan daya ingat seseorang tergantung pada daya tangkap terhadap apa yang disampaikan. Daya tangkap seseorang juga berkaitan dengan daya simpan memori otak.
Allah SWT menurunkan Al Qur'an dengan ayat yang dapat dihafalkan. Dan Allah SWT menegaskan dalam surat Al Qomar ayat 32 berbunyi:

       
Artinya : Dan Sesungguhnya telah Kami (Allah) mudahkan Al Quran untuk pelajaran (dihafal), Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran (menghafal)?
Sebagian ulama ada yang menafsirkan   dengan ﻓﺎﺣﻐﻆﻮا (artinya : maka hafalkanlah).

Menghafal merupakan keharusan dimana Nabi Muhammad SAW yang notebene seorang Rosul utusan Allah SWT yang menjadi panutan hidup kita, selalu menghafal dan mengingat wahyu yang sudah diturunkan melalui malaikat Jibril dari awal sampai akhir, dengan berangsur angsur. Rosulullah yang Ummi (buta huruf) menerima wahyu melalui malaikat jibril melalui mendengar apa yang disampaikannya, maka setiap menerima wahyu pasti dihafalnya. Firman Allah dalam surat Al A’laa ayat 6 -7:



              
Artinya : Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) Maka kamu tidak akan lupa. Kecuali kalau Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.

Dari ayat diatas tentunya kita sebagai umat nabi Muhammmad yang mengimani. Akan mencontoh beliau sebagai contoh bagi hidup kita, sekalipun mungkin kita hanya sanggup bagian kecil saja namun tetap kita berusaha meningkatkan membumikan contoh perilaku nabi dalam hidup kita. Demikian pula dalam menghafal sedikit demi sedikit harus ditingkatkan dan diperbanyak.
Rasulullah selalu menghafal Al Qur’an setiap saat, beliau pun diuji hafalannya. Dalam waktu 23 tahun Rasulullah sesuai turunnya wahyu secara berangsur angsur beliau tetap hafal. Beliau membacakan dan mengajarkan Al Qur’an kepada manusia sebagaimana yang diperintahkan. Setiap tahun sekali Rasulullah bertalaqqi dan bermusyafahah kepada Jibril untuk mengulangi hafalan Al Qur’an yang diterimanya. Dan pada tahun terakhir sebelum wafatnya Rasulullah, Jibril menghadap untuk mengecek hafalan Al Qur’an Nabi Muhammad SAW sebanyak dua kali. Pengecekan terakhir ini terkenal dengan sebutan “Urdhah Akhirah”.
Al Qur'an adalah kitab suci bagi pemeluk agama Islam, sebagai pedoman hidup dan sumber hukum. Tidak semua manusia sanggup menghafal dan tidak semua kitab suci dapat sihafal kecuali kitab suci Al Qur'an dan hamba-hamba Allah yang terpilih dan sanggup menghafalnya. Dalam surat Fathir ayat 32 Allah berfirman:
       ... 
Artinya: Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami,
Dari ayat-ayat diatas serta contoh amalan Rasulullah sebagai Uswatun Khasanah (contoh yang baik) umat Islam, kita dapat menarik pendapat bahwa menghafal merupakan suatu perilaku yang dicontohkan oleh Rasulullah. Serta menghafal merupakan salah satu metode belajar yang sudah ada sejak zaman Rasulullah. Tentunya metode menghafal metode yang sudah lama tetapi akan berjalan seiring perkembangan jaman dan tidak akan hilang selama manusia hidup. Sebab manusia bisa belajar berasal dari segala sesuatu yang diterima dan dihafal sebelum menjadi kecerdasan personal.

2. Penyebab Kesulitan Dalam Menghafal
Kemampuan menghafal setiap manusia satu sama lain tidak sama, tidak semua orang cukup kuat ingatannya dan tidak semua orang mempunyai niat dan tekat yang kuat untuk menghafal Al Qur'an. Demikian pula anak didik kita disekolah banyak pengaruh yang diterima anak baik pengaruh intern anak maupun pengaruh luar mempunyai peranan yang sangat besar terhadap motivasi menghafal. Peran guru menjadi sangat penting untuk mampu meningkatkan motivasi menghafal Al Qur'an. Berbagai metode menghafal dapat dilakukan dan dicoba untuk dapat meningkatkan hafalan Al Qur'an anak.
Kesulitan yang timbul adalah disebabkan oleh berbagai faktor, dikelompokkan dalam dua faktor yaitu: faktor intern dan faktor ekstern. faktor-faktor tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
1) Faktor Intern
a) Bakat
Bakat merupakan anugerah Allah SWT yang diberikan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Diantara bakat tersebut adalah menghafal yang tidak ditemukan kesamaannya pada setiap orang. Perbedaan yang dimiliki manusia adalah sunatullah yang mesti terjadi. Kita tidak mungkin menyamaratakan cara interaksi kita antara anak yang memiliki potensi dalam menghafal dengan anak yang memiliki bakat dibidang olah raga.
b) Berkebutuhan khusus
Anak berkebutuhan khusus merupakan istilah baru yang muncul di dunia pendidikan. Sebenarnya banyak diantara mereka yang memiliki kemampuan berfikir seperti anak lain namun kenyataan anak tersebut mengalami kesulitan dalam menstranfer kemampuan dasar belajar seperti mendengar (listening), atau membaca (reading), atau menulis (writing) maupun dalam matematika (calculating).
Gangguan diatas merupakan masalah pribadi yang sangat mendasar kemungkinan karena adanya gangguan fungsi pusat syaraf. Biasanya gangguan diiringi dengan adanya gangguan penglihatan, pendengaran, lambat berfikir, adanya gangguan emosional ataupun gangguan sosial.
c) Motivasi
Perkembangan iptek yang pesat mempunyai pengaruh yang besar terhadap konsep, tekhnik dan metode pendidikan. Perkembangan tersebut menyebabkan makin luas dan kompleksnya ilmu pengetahuan. Dengan kondisi ini tidak mungkin lagi diajarkan seluruhnya di sekolah maka peran guru adalah mengajarkan bagaimana cara belajar. Menanamkan motivasi yang kuat dalam diri anak untuk belajar terus menerus sepanjang hidupnya. Motivasi diri terbagi dua motivasi intrinsik seperti tekat, semangat, ambisi, merupakan motif dari dalam diri. Dan motivasi ekstrinsik motivasi dari luar seperti dorongan, hadiah (reward).
2) Faktor ekstern
a) Kondisi dan sistem pendidikan di sekolah.
Sekolah merupakan lembaga pendidikan dapat dikatakan pendidikan terlaksana dari masyarakat untuk masyarakat dan oleh masyarakat. Sekolah yang baik adalah sekolah yang bisa menerima dan melaksanakan masukan masyarakat secara bijaksana. Komponen ganda pendidikan sekolah yaitu masukan dari masyarakat dalam sistem pendidikan diikuti oleh hasil ganda dari sistem yang mengalir baik dalam masyarakat, dan akhirnya mempunyai dampak baik bagi masyarakat. Imam Barnadib menggambarkan kondisi ini dalam diagram berikut:










Gambar 2. Sistem pendidikan sekolah yang berorientasi proses
Proses pendidikan sekolah yang optimal dengan beroriantasi kebutuhan masyarakat, tentunya akan membawa hasil yang diharapkan masyarakat. Kondisi ini memungkinkan terhindarnya kesulitan yang akan terjadi selama proses belajar.
b) Dukungan orang tua dan Masyarakat
Sekolah berada di lingkungan masyarakat dan orang tua yang saling membutuhkan satu sama lain. Kolaborasi yang aktif hendaknya dibentuk sedemikian rupa dimana masyarakat dan orang tua bisa mendukung program sekolah juga program sekolah bisa menjadi pemenuhan atas kebutuhan mereka. Hubungan tersebut digambarkan oleh Fagerlin dan Saha dalam Imam Barnadib dengan diagram berikut:

Gambar 3. Hubungan dialektis sistem pendidikan dan lingkungan
Diagram diatas menggambarkan keterkaitan hubungan mutualisme sekolah dan masyarakat orang tua dalam menyusun program sekolah. Dimana masyarakat memberikan masukan untuk perkembangan sekolah. Sekolah memberi respon masukan dalam program sekolah. Dengan kondisi demikian akan menimbulkan hubungan saling menguntungkan dan akan meningkatkan daya dukung masyarakat orang tua dan sekolah secara imbal balik.
Faktor luar seperti penerimaan dan penghargaan masyarakat terhadap para hafizh. Dengan demikian faktor ekstern (lingkungan) pun bisa menjadi faktor yang penting dalam menumbuhkan motivasi menghafal. Penerimaan masyarakat yang besar terhadap penghafal Al Qur'an akan meningkatkan semangat penghafal Al Qur'an
c) Politik dan ekonomi
Pada gambar 3 diatas digambarkan bahwa ekonomi dan politik menjadi faktor daya dukung pendidikan. Suatu kondisi yang aman akan sangat mendukung proses pembelajaran disekolah. Ekonomi yang stabil akan menciptakan situasi kondusif, sebab kondisi ekonomi masyarakat dan orang tua berbanding seimbang dengan mutu pendidikan. Sistem pendidikan akan mengikuti pola perubahan kondisi komponen pendukungnya.
Dalam hal ini Sumitro menyatakan bahwa sistem pendidikan tidak bebas nilai dan bebas budaya, juga terkait komunitas lokal, nasional dan global ... serta pendidikan itu sangat dinamis dan responsif terhadap perubahan-perubahan serta kecenderungan pada lingkungan yang sedang berlangsung (baik kondisi politik maupun ekonomi).
Uraian diatas merupakan kondisi ideal terlaksananya pembelajaran dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan kondisi demikian akan meminimalkan kesulitan yang mungkin muncul. Dengan sistem yang baik sekolah akan dapat membaca apa bila terjadi kesalahan, dengan sesegera mungkin dapat memperbaiki, sehingga kesalahan runtutan tidak muncul.
Berpola terbalik apabila kondisi ideal tidak terpenuhi tentunya bermacam kesulitan dapat dimungkinkan akan muncul, gangguan kesalahan dan kesulitan yang muncul selama proses pembelajaran tidak akan terdeteksi. Karena banyaknya masalah yang muncul menyebabkan upaya perbaikan tidak terlaksana secara sempurna. Dengan kondisi ini tujuan pembelajaran yang diharapkan tidak tercapai secara optimal.

3. Metode Drill Dalam Mengatasi Kesulitan Menghafal Surat-Surat Pendek
a. Keunggulan metode drill dalam mengatasi kesulitan menghafal surat-surat pendek
Dalam pembelajaran metode drill atau latihan digunakan untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan benar. Metode dilaksanakan dalam upaya memperoleh ketangkasan, ketepatan, kesempurnaan dan keterampilan suatu materi berkaitan dengan hafalan. Pada saat metode drill dilaksanakan dalam kegiatan menghafal surat-surat pendek akan ditemukan kemungkinan kesalahan, kesalahan ini perlu diperbaiki hafalan sempurna.
Perencanaan latihan yang dilaksanakan murid berkaitan erat dengan berbagai komponen kegiatan belajar. Kegiatan yang berkesinambungan, terpadu dan terevaluasi. Dalam Mansyur menyebutkan keunggulan keunggulan metode drill dalam mengatasi kesulitan menghafal surat-surat pendek, yaitu:
1) Pembentukan kebiasaan yang dilakukan dengan menggunakan metode drill akan menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.
2) Pemanfaatan kebiasaan-kebiasaan tidak memerlukan banyak konsentrasi dalam pelaksanaannya
3) Pembentukan kebiasaan membuat gerakan-gerakan yang komplek, rumit menjadi lebih otomatis “habitation makes complex movement more automatic”

b. Kelemahan-kelemahan metode drill dalam mengatasi kesulitan menghafal surat-surat pendek
Penggunaan metode drill dalam pembelajaran memerlukan strategi khusus dimana guru harus benar jeli, guru mampu memilih dan memilah antara materi yang dapat dan tepat dengan metode drill, guru juga sedapat mungkin bisa memilah mana yang tidak cocok dengan metode drill. Kemampuan ini tentunya sudah dimiliki oleh guru yang sudah berpengalaman dalam mengajar.
Pemahaman guru atas potensi siswa menjadi pertimbangan dalam melaksanakan pembelajaran dengan metode drill. Materi yang dilatihkan untuk anak didik efektif jika berupa praktik atau menghafal tergantung pada kompetensi yang diharapkan. Dalam Zakiah Daradjat menyatakan salah satu prinsip pendidikan adalah prinsip aktivitas yaitu tanggapan sesuatu dari yang dialami atau dikerjakan sendiri lebih sempurna dan mudah direproduksi dan pengertian yang diperoleh adalah jelas... pada waktu guru mengajar, ia harus memberi kesempatan kepada murid agar mereka aktif rohani maupun jasmani, secara perseorangan ataupun kelompok.
Pemahaman guru tentang keunggulan dan kelemahan suatu metode perlu juga menjadi referensi sebagai bahan pertimbangan. Alokasi waktu yang tersedia untuk mengatasi kelemahan yang ditemukan perlu diketahui sebelum aktivitas pembelajaran berlangsung. Hal ini terkait dalam penyusunan rencana program pembelajaran. Mansyur menyebutkan adanya kelemahan-kelemahan dari metode latihan jika dilaksanakan dalam pembelajaran. Adapun kelemahan-kelemahan metode drill antara lain:
1) Menghambat bakat dan inisiatif murid, karena murid lebih banyak dibawa kepada konformitas dan diarahkan kepada uniformitas.
2) Kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang monoton, mudah membosankan.
3) Membentuk kebiasan yang kaku, karena murid lebih banyak ditujukan untuk mendapatkan kecakapan memberikan respon secara otomatis, tanpa menggunakan intelegensi.
4) Menimbulkan verbalisme, karena murid-murid lebih banyak menghafal soal-soal dan menjawabnya secara otomatis.

c. Cara mengatasi kelemahan metode drill dalam mengatasi kesulitan menghafal surat-surat pendek
Dalam menggunakan suatu metode dalam pembelajaran tidak ditemukan metode yang sempurna. Demikian pula dalam menggunakan metode drill dalam pembelajaran masih ada kelemahan. Ada bermacam cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan metode drill, seperti:
1) Latihan hanyalah untuk bahan atau tindakan yang bersifat otomatis
2) Latihan harus memiliki arti luas:
a) Jelaskan terlebih dahulu tujuan dari latihan itu.
b) Agar murid dapat memahami manfaat latihan itu bagi kehidupan murid.
c) Murid perlu mempunyai sikap, bahwa latihan itu diperlukan untuk melengkapi belajar.
3) Masa latihan secara relatif singkat, tetapi sering dilakukan pada waktu-waktu tertentu.
4) Latihan harus menarik, gembira dan tidak membosankan. Untuk itu perlu:
a) Dibangkitkan minat intrinsik.
b) Tiap-tiap kemajuan yang dicapai murid harus jelas.
c) Hasil latihan terbaik dengan sedikit menggunakan emosi.
5) Proses latihan dan kebutuhan harus disesuaikan dengan perbedaan individual.
a) Tingkat kecakapan yang diterima pada satu saat tidak perlu sama.
b) Perlu diberikan latihan perorangan dalam rangka menambah latihan kelompok.

Pembelajaran merupakan upaya mananamkan kebiasaan yang benar, tepat dan sesuai tatanan moral dan aturan yang diakui masyarakat pada anak. Pengulangan, penekanan, evaluasi harus sering dilakukan, sebab anak kelas satu sekolah dasar berada masa transisi antara dunia keluarga dengan dunia kemandirian (dewasa). Aktifitas motorik yang tinggi merupakan dunia mereka. Untuk itu guru dalam menerapkan metode harus mempertimbangan potensi fisik yang dimiliki anak. Kegiatan yang menyenangkan menjadi prioritas yang harus ada pada setiap pembelajaran.
Penyesuaian yang berangsur-angsur akan mendorong anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan tanpa paksaan. Dalam penerapan metode drill (latihan) tentunya efektif bagi mereka sebab dunia mereka yang mengasyikan akan lebih mendorong keberhasilan jika materi yang diberikan hanya sedikit melibatkan aspek kognitif dan konsentrasi mereka.
Kegiatan menghafal surat-surat pendek akan mengasyikan mereka, mereka akan terbuai jika kegiatan menghafal ini dengan irama. Pengulangan dalam aktifitas bersama bagi mereka adalah sesuatu yang menyenangkan sebab dengan bersama ini anak tidak merasa diperhatikan secara khusus, mereka akan merasa tenang sebab perhatian terbagi untuk yang lain. Dari kondisi inilah peran evaluasi perorangan perlu dilakukan untuk mengatasi kesalahan dan kesulitan-kesulitan dalam menghafal surat-surat pendek.
Evaluasi digunakan untuk meningkatkan materi hafalan jika ketepatan, ketangkasan dan keterampilan suatu materi tercapai. Evaluasi juga mempunyai peranan untuk meningkatkan kepercayaan diri dimana anak akan merasa yang dihafal sudah benar. Dengan keyakinan ini anak akan mengeksplor secara lugas tanpa keraguan.