by Rengga Trianto on Saturday, May 14, 2011 at 7:37pm
MENYUSURI JEJAK – JEJAK KENANGAN DI PANTAI PASIR KUNING
Lembut semilir angin Pantai Pasir Kuning ini, mengingatkanku kepada gadis cikarku. Wulan ……, apa kabar kau kini? Sudah 4 tahun lamanya kita tidak bersua. Entah bagaimana keadaanmu kini. Apakah kau baik – baik saja? Bodohnya aku meninggalkanmu waktu itu, karena amoy yang baru aku kenal di kota Muntok. Aku tahu hatimu waktu itu terluka, sangat terluka karena ulahku. Kenapa dulu aku tega menyakiti hatimu yang lembut bagaikan salju itu. Begitu mudahnya aku mengucapkan kata “perpisahan” dan menjalin kasih dengan Lina yang hanya baru 2 hari ku kenal.
Aku ingat, matamu berurai air mata. Kau memohon agar aku tidak meninggalkanmu. Tapi aku yang terlanjur dibutakan oleh cinta sesaat, pergi meninggalkanmu begitu saja. Wulan gadis cikarku, setelah empat tahun berlalu, kini aku menjejakkan kakiku kembali di Desa Tempilang yang damai dan tenang ini. Kau tahu? Aku langsung ke pantai Pasir Kuning, tempat favorit kita waktu nge-date dulu. Kamu pernah mengatakan, bahwa pantai adalah tempat rekreasi favoritmu. Kata mu, bila berjalan – jalan di pantai, hati menjadi tenang, pikiran pun menjadi damai. Menghirup hembusan semilir anginnya, serasa membangkitkan gairah dan semangat hidup. Kau mengatakannya sambil berjalan menyusuri pantai. Tangan kita saling berpegangan erat. Sesekali kau menyenderkan kepalamu di dadaku. Aku mengusap pelan rambut panjang indahmu. Ahhh ….., begitu romantis saat itu. Bila sudah begitu, mulutmu yang cerewet tak henti – hentinya bercerita tentang desa Tempilang tempat kelahiranmu. Sumpah, aku sendiri sudah bosan mendengarnya. Tapi kau selalu memaksa aku untuk mendengarkannya sambil mencubit gemas perutku.
Wulan, sekarang pandanganku lurus menghadap pantai. Dari ujung sana terlihat indahnya biru air laut. Aku membayangkan, ada wajahmu di sana, tersenyum manis melihatku atau malah menertawakanku yang dengan bodohnya berjalan sendirian sambil mengenang kisah cinta kita yang telah lalu. Aku tahu, bila ada kau disini, pasti kau tertawa lebar – lebar di depan wajahku. Pasti kau akan memaki – maki aku dan menyebut diriku bodoh, tolol …… hah!!! Wulan, aku memang pantas kau beri perlakuan seperti itu. Aku memang bodoh telah mencintai Lina. Dia ternyata tidak mencintaiku. Dia hanya cinta pada uangku saja. Aku benar – benar tidak bisa melupakan kejadian di hari Sabtu yang menyakitkan itu. Tanpa sengaja, aku mendengar perbincangan dia dengan Ibunya. Ibunya menyuruhnya untuk memerasku. Aku dengar sayup – sayup dari perbincangan mereka, ternyata Ibunya memiliki hutang sebesar tiga puluh juta kepada seorang rentenir. Lina dengan wajah tanpa dosa, bersedia menuruti kehendak Ibunya tersebut. Bahkan dia sendiri yang mengatur rencana tersebut dengan rapi, membuatku tidak sadar bahwa aku sedang diperas.
Lina …. Lina ….., seandainya kau tahu. Aku ini tidak kaya. Yang kaya adalah orang tuaku. Aku hanya diberi fasilitas saja. Begitu mudah kau silau dengan mobil yang aku pakai, silau dengan kartu ATM dan kartu kredit yang aku punya. Dihari Sabtu yang menyakitkan itu, aku mengajak dia ke pantai Tanjung Kalian, tepat di bawah Mercusuar Tua peninggalan zaman Belanda tempat kami pertama kali bertemu, aku memutuskan tali percintaanku dengan dengannya. Menyakitkan memang. Tapi untuk apa aku menjalani jalinan cinta yang hanya didasari oleh uang, bukan cinta.
Tidak seperti kau Wulan. Kau mencintaiku karena kau cinta, bukan karena aku anak orang kaya. Kau pernah bilang, uang bukan segala – galanya. Uang tidak dibawa mati. Uang hanya titipan. Tapi cinta? Cinta sejati tidak akan pernah mati, mesti sang kekasih meninggalkannya. Wulan, begitu tulus kau mencintaiku. Aku berharap cinta sejati itu masih ada dihatimu untukku.
Wulan ……, kakiku menginjak sesuatu. Ternyata kerang. Kau ingat, aku pernah memberimu kulit kerang kecil berwarna putih mulus ini kepadamu. Kataku ….. putihnya kulit kerang ini seputih cintaku kepadamu. Kau tertawa kecil dan mengatakan kalau aku ini “gombal”, terus kau mengatakan, “Sudah berapa wanita yang kau beri kerang sambil mengucapkan kata – kata seperti itu?”, aku tersipu malu. Lalu aku kejar dirimu yang berlari – lari kecil menyusuri pantai. Aku berhasil menangkapku. Lalu aku peluk dirimu erat. Dalam pelukan itu, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu, apalagi menyakiti hatimu. Tapi Wulan, kau lihat sendiri. Aku langgar janjiku itu. Aku mengkhianatimu. Aku menduakanmu. Oh ……. Tuhan, kenapa aku laki – laki diciptakan begitu mudahnya tergoda kepada rayuan seorang wanita. Seandainya aku tidak mengkhianatimu, mungkin saat ini kita telah menjadi sepasang suami istri.
Kita berpacaran cukup lama ya Wulan, dua tahun. Pertama kali bertemu waktu acara pesta adat tahunan terbesar di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, Perang Ketupat. Aku waktu itu yang hanya menjadi penonton, begitu kagum melihatmu, wanita satu – satunya di arena Perang Ketupat yang di dalamnya terdapat laki – laki semua. Kau begitu bersemangat melempar gumpalan – gumpalan ketupat ke arah lawan. Kau tidak peduli dengan keadaanmu yang berantakan terkena lemparan ketupat. Bahkan wajahmu yang putih berubah menjadi merah terkena sinar matahari. Kau terlihat begitu maskulin waktu itu. Mungkin karena waktu itu rambutmu masih pendek sebatas leher dan kau ikat kuda ke belakang. Aku terus menyorakimu …. Ayo …. Ayo…, namun tiba – tiba kau menarik lenganku dan mengajakku ikut bergabung. Kontan aku terkejut. Tapi karena sudah terlanjur, akhirnya aku jadi ikut berperang di arena.
Lucu bila mengenang kejadian itu. Sehabis perang, aku langsung menghampirimu dan berkenalan. Kau begitu ramah ketika menjabat tanganku sambil menyebutkan namamu, begitupun sebaliknya aku. Pertemuan kita terus berlanjut, hingga akhirnya kita memutuskan untuk pacaran. Jujur Wulan, waktu berpacaran denganmu, aku capek sekali. Capek karena aku mesti ngapelin kamu dari Pangkalpinang ke Tempilang. Ngapelnya pun bukan malam Minggu, tapi hari Minggu. Tapi aku rela wulan. Habis, kalau tidak bertemu, rasanya rindu sekali. Kerjapun jadi tidak konsen, meski sudah ada handphone, tetap saja ritual ketemuan harus dilakoni.
Pernah waktu itu aku sedang menuju ke rumah mu. Ban mobilku kempes terkena paku. Ha … ha … ha …, habis jalanan menuju ke rumahmu belum di aspal, masih tanah merah dan paku tersebut entah dari mana datangnya. Untung aku membawa ban serep, sehingga dengan cepat langsung ku ganti dan segera ke rumahmu.
Kau ingat Wulan, aku begitu takut waktu pertama kali berkenalan dengan orangtuamu. Terutama dengan Ayahmu. Aku membayangkan pasti aku akan dilarang berpacaran denganmu. Karena kau adalah anak perempuan kesayangan satu – satunya dalam keluarga. Namun, kejadian yang ku takutkan tidak terjadi. Malahan orangtuamu welcome sekali terhadapku. Ayahmu pernah berkata, “Jang, tulong jage anek gadis ko ne satu – satu e ni, jangen sampai ka gi nyaket ati e. betunanglah yang serius, yang bener, jangen dibuet maen – maen.” Begitu kata Ayahmu dengan logat bahasa Bangka yang kental.
Pak Sahanan, aku mohon maaf tidak bisa memenuhi permintaan Bapak. Aku memang laki – laki bodoh, pecundang!!! Aku tidak pantas dititipkan seorang wanita yang begitu baik hatinya untuk kujadikan seorang kekasih.
Wulan, aku tidak tahu bagaimana reaksi Ayahmu waktu aku meninggalkanmu. Mungkin aku tidak sanggup menatap wajahnya bila seandainya aku harus bertemu dengannya. Begitu malunya aku, sampai kata maaf ku pun mungkin tidak akan sempat meluncur dari mulutku. Begitu berdosanya aku Wulan. Seandainya aku bisa memutar waktu, aku ingin kembali ke masa lalu, masa sewaktu kita masih bersama. Aku ingin memperbaiki kesalahanku padamu. Begitu banyak hati yang telah ku buat terluka oleh perbuatanku.
Wulan ….. hari ini hari Raya Idul Fitri. Momen yang tepat untukku meminta maaf kepadamu dan kedua orangtuamu. Sewaktu aku ke sini tadi, aku melihat iring – iringan serombongan laki – laki berpakaian muslim, ada yang memakai sarung. Ada juga yang memakai celana panjang, berjalan beriringan membawa dulang berwarna merah bergaris kuning hitam menuju Masjid Jami’ yang terletak di pinggir jalan Desa Tempilang. Itu acara nganggung kan Wulan? Aku berhenti sejenak. Mataku berkeliling mencari – cari sosok Ayahmu. Tapi tidak ketemu. Akupun sempat berniat melajukan mobilku menuju ke arah rumahmu, tapi ku urungkan niatku, karena aku masih belum mempunyai nyali untuk menemuimu. Akhirnya, aku menuju ke pantai ini, Pantai Pasir Kuning. Ku buka buku agendaku. Ku ambil fotomu. Ku pandangi sambil berjalan menyusuri pantai, mengenang kenangan indah kita.
Di pantai ini, aku masih mengumpulkan segenap keberanianku untuk menemuimu dan orangtuamu. Wulan…… aku tidak mengharapkan apa – apa. Aku hanya ingin meminta maaf. Untuk mengharapkan cintamu, rasanya sudah tidak mungkin. Sekarang aku siap menemuimu, apapun yang terjadi, aku siap menerimanya.
***
Angga bergegas pergi meninggalkan Pantai Pasir Kuning. Ketika dia akan melangkahkan kaki menuju mobilnya, alangkah terkejutnya dia saat melihat sosok wanita seperti Wulan berdiri seorang diri sambil menatap ke arah pantai, Angga bertanya dalam hati, “Wulan…. Apakah itu kamu … ??” ketika Angga akan mendekatinya, mendadak sosok Wanita itu memalingkan wajahnya dan tersenyum manis ke arahnya. Jantung Angga berdesir. Semilir angin begitu lembut menerpa, sehingga membuat rambut wanita itu tergerai pelan. Angga berkata lirih, “Ternyata Wulan ……, Wulan!!!! Panggilnya. Namun seketika sosok wanita itu menghilang tanpa jejak di hadapannya. Tubuhnya seakan ikut melayang pergi mengikuti arus semilir angin Pantai Pasir Kuning yang sejuk.
Angga terdiam terpaku seribu Tanya.
PRIA BERKAOS MERAH
by Rengga Trianto on Saturday, May 14, 2011 at 7:32pm
PRIA BERKAOS MERAH
“Kaos merah …… kaos merah”
Kata – kata itu memenuhi seluruh ruang otakku. Mataku berkeliling ke segala penjuru toko buku, mencari - cari sosok pria berkaos merah tersebut. Satu dua orang yang masuk ku seleksi berdasarkan kaos yang mereka pakai. Hemm,, seperti orang yang kurang kerjaan saja aku. Sembari memegang majalah dan membolak – balik lembarannya, mataku melirik – lirik sekilas, mengawasi orang – orang yang berlalu lalang di dalam toko buku dengan tatapan yang mencurigakan. Srettt …… sekilas aku melihat pria memakai kaos berwarna merah. Deg!!! Jantungku berdegup kencang. Jangan – jangan pria ini lagi yang sedari kemarin selalu memaksa aku untuk ketemuan. Ku cek sms yang masuk ke dalam inbox message hapeku. Ku baca sms yang masuk Lima menit yang lalu itu.
“Aku pake kaos merah lengan pendek.”
Ku lirik lagi pria berkaos merah tersebut. Tapi dia memakai kaos merah berlengan panjang. Lagipula pria tersebut tidak berlama – lama di dalam toko buku dan langsung keluar begitu saja tanpa membeli sesuatu. Huftt!! Ke,mana dia? Gerutuku dalam hati dengan rasa jengkel. Sudah hampir dua puluh menit lamanya aku menunggu di sini. Ku rogoh hape yang ada di dalam tasku. Ku sms kembali pria misterius tersebut.
“Dimana kamu sekarang?” tanyaku. Semenit kemudian dia membalas.
“Aku udah nyampe ni.” Balasnya.
Cepat – cepat ku dongakkan kepalaku melihat ke arah pintu masuk toko buku. Ku edarkan bola mataku ke sekeliling ruangan. Aku bergumam sendiri, kemanakah pria berkaos merah tersebut?
Aku berjalan perlahan ke arah deretan rak buku – buku bertemakan Psikologi. Ku edarkan kembali mataku menjelajah setiap deretan rak buku yang di depannya berdiri satu sampai tiga orang pengunjung yang hanya sekedar melihat – lihat ataupun hanya sekedar membaca kilasan resensi isi buku – buku yang tersusun rapi di rak – rak tersebut.. masih belum kutemukan juga sosok pria berkaos merah yang misterius tersebut. Hatiku mulai kesal. Ku ambil kembali hapeku. Aku sms dia sekali lagi.
“Kamu di mananya?”
Tak sampai satu menit, dia membalas.
“Aku udah di dalem ni.”
Brengsek!!! Pikirku dalam hati. Aku tahu dia pasti bersembunyi. Entah di balik rak – rak buku atau di kerumunan orang – orang yang pada berjejal berebutan untuk melihat novel – novel cuci gudang berharga diskon yang tersusun rapi di rak paling ujung dari toko buku ini.
Ku percepat langkahku menuju ke kerumunan orang – orang tersebut. Berharap sosok pria berkaos merah lengan pendek berada disitu. Kembali aku celingukan kesana kemari persis orang bingung mencari sosok pria misterius tersebut. Tetap tidak kutemukan.
Hatiku mulai panas. Aku kembali menuju deretan rak majalah. Ku ambil hapeku. Kali ini aku tidak berniat untuk mengirim pesan kepadanya, melainkan aku akan menelponnya. Ku dial nomornya dan terdengarlah nada sambung pribadi lagu Armada “Ku hanya ingin setia”. Sebuah lagu cinta menyentuh hati yang sebenarnya tidak ingin lagi aku dengar, karena telah mengingatkanku kepada mantan pacarku, Abdi. Aku benci bila harus mengingat bagaimana dia memutuskanku dan rela memilih wanita pilihan orang tuanya. Lirik lagu Armada tersebut sangat pas dengan tragedy cintaku tersebut. Ohhh ….. seandainya lagu tersebut tidak pernah rilis ke pasaran.
Sekali refrain lagu Armada telah berlalu. Telponku tak kunjung diangkat. Kedua kalinya refrain lagu Armada terdengar, telponku di reject olehnya. SIAL!!!! Umpatku dalam hati. Tak banyak berpikir lagi, satu kata langsung terlintas di dalam otakku, AKU DIKERJAI!!!!. Dengan cepat aku menarik kesimpulan. Dia tidak memakai kaos merah, tapi dia memakai kaos berwarna lain.
Benar – benar brengsek!!! Bagaimana mungkin aku bisa menemukan orang di dalam toko buku ini yang memakai kaos merah sementara dia sendiri sebenarnya tidak memakai kaos berwarna merah.
Aku yakin dia memakai kaos berwarna lain dan semua lelaki di dalam toko buku ini bisa dijadikan tersangka!!. Jrengg …. Jrenggg … saatnya aku mengambil taktik yang lain. Ku telpon kembali nomornya secara diam – diam. Sambil menelpon, aku mengendap – ngendap di antara deretan rak – rak buku sambil melihat ke semua lelaki yang ada di dalam toko buku berharap salah satu dari mereka ada yang mengangkat telpon. Barang siapa yang mengangkat telpon. Grab!!!! Dia lah tersangka utamanya!!!
Lagu Armada masih mengalun, namun tak satu pun lelaki yang mengangkat telpon. Sial!! Sial!! Sial!!!, dia ternyata lebih pintar. Mungkin saja dia tidak berada di dalam toko buku ini melainkan berada di luar. Ku lihat ke arah dinding kaca yang memisahkan toko buku dengan para penjual pakaian di mall ini. Orang – orang berlalu lalang, namun tidak ada yang bersikap mencurigakan. Aku semakin bingung. Pikiranku mulai aneh – aneh saja. Jangan – jangan dia pemilik toko buku ini dan dengan mudahnya dia mengintaiku dari seperangkat kamera CCTV. Huh…. Seperti mata – mata saja.
Dalam kebingunganku tersebut tiba – tiba hapeku berbunyi. Ada sms masuk. Ku buka sms tersebut.
“Kamu yang berdiri di deretan rak majalah itu kan?”
Deg!! Aku terkejut. Dia tahu aku berdiri di deretan rak ini. Aku semakin yakin dia sebenarnya ada di dalam toko buku ini. Sedari lama dia telah melihatku dan aku yakin dia sedang berdiri di belakangku sekarang. Aku belum menoleh. Pelan – pelan ku balas smsnya.
“Iya bener. Kamu di mana sih?” tanyaku gemas. Lalu dia membalas.
“Sorry ya, telah membuang – buang waktu kamu, salam kenal aja. Bye.”
“Lho?? Kenapa ???” balasku heran. Ku berondong lagi dia dengan serentetan sms berikutnya.
“Cepat temui aku disini.” Desakku. Namun dia tak kunjung membalas. Cepat – cepat ku balikkan badanku melihat siapa yang ada di belakangku. Srettt!!! Sesosok pria tinggi, berkulit putih sekelebat keluar dari toko buku. Dia tidak memakai kaos merah. Dia memakai kaos berwarna biru laut. Spontan aku berlari ke arahnya. Tapi aku tidak berani memanggilnya. Sosok itu sangat ku kenal. Ya…. Aku mengenalnya. Dia tidak asing bagiku. Perawakannya yang familiar di mataku walaupun terlihat dari belakang mengingatku pada seseorang di masa laluku. Dia Abdi, mantan pacarku.
Abdi, thanks untuk hari ini.
Tampilkan postingan dengan label cerpen rengga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen rengga. Tampilkan semua postingan
Senin, 16 Mei 2011
Selasa, 19 April 2011
rey
BAB XI. LEMBARAN HIDUP YANG BARU
by Rengga Trianto on Tuesday, April 19, 2011 at 7:24am
Di kamar Mitha termenung sambil memandangi foto Rey. Jari - jarinya menelusuri foto tersebut dengan mata berkaca – kaca. Semenjak kematian Rey yang begitu tragis, ia seperti kehilangan gairah hidup. Setiap ia ingat akan kenangan indahnya bersama Rey, setiap itu pulalah ia meneteskan air mata.
“Tidak ada gunanya kau menangisi laki – laki seperti itu,“ ucap Ibunya tiba – tiba berdiri di ambang pintu. Mitha menyeka air matanya. Ia diam tak menjawab.
“Yang lalu biarlah berlalu, Mit?” ucap Ibunya lagi seraya mendekat ke arahnya dan merangkul pundaknya hangat. Ia masih diam tak menjawab.
“Maafkan Mama Mit. Selama ini Mama selalu mentingin urusan Mama sendiri. Mama memang egois.“
Ia menatap Ibunya dengan tatapan tajam.
“Apakah Mama sadar akan kelakuan liar Mama?!“ tanyanya dengan nada emosi.
“Mama tau. Makanya sekarang Mama minta maaf. Kita mulai lagi lembaran hidup yang baru,“ ujar Ibunya dengan mata berkaca – kaca. Mitha mengalihkan pandangannya. Tak ingin melihat wajah Ibunya yang hanya akan membuat dirinya semakin terbawa emosi.
“Nggak semudah itu Ma. Udahlah!! Mama keluar aja. Aku mau sendirian sekarang,“ usirnya.
“Oke. . . Tapi satu hal yang mesti kau ingat. Kau tidak akan bisa memikul beban ini sendirian.“
Ibunya beranjak keluar dari kamarnya. Namun langkahnya tertahan di ambang pintu. Ia merasa kecewa karena telah gagal meluluhkan hati Mitha untuk dapat memaafkannya. Diam – diam ia mengeluarkan amplop berwarna putih bersih dari dalam sakunya. Amplop tersebut ia pegang dengan tangan bergetar.
“Andaikan kau tau ini?“ batinnya.
Amplop tersebut ia masukkan kembali ke dalam sakunya dan berlalu dari depan pintu kamar Mitha tanpa menyadari bahwa amplop tersebut telah terjatuh ke lantai. Sekelebat Mitha melihat amplop tersebut terjatuh. Diam – diam ia mengambilnya dan membacanya.
“KANKER OTAK??”
Jelegar!!! Bagaikan petir menyambar di siang hari, dadanya terasa sesak saat mengetahui isi amplop tersebut. Saat itu juga, runtuhlah semua rasa benci dan muak yang selama ini menyelimuti hatinya terhadap Ibunya.
Sementara itu, Ibunya berjalan gontai menuruni anak tangga. Pikiran dan tatapan matanya kosong. Ia menatap miris deretan bingkai – bingkai foto yang tergantung rapi di sepanjang dinding anak tangga. Hatinya hancur sekali. Menuruni anak tangga tersebut seakan berjalan di sebuah lorong waktu yang mengingatkan dirinya akan memori – memori indah terdahulu. Ia berhenti di salah satu bingkai foto.
“Mas, kenapa kau berselingkuh? Kurang apa aku ini?“ ucapnya lirih. Jari – jemarinya menelusuri foto tersebut. Perlahan air mata mengalir dari pelupuk matanya.
“Aku rindu saat – saat kita bersama dulu?“ ucapnya terisak. Ia kembali menuruni anak tangga hingga ke bawah. Tapi langkahnya tertahan oleh suara Mitha.
“Ini amplop apa, Ma?“ tanya Mitha dengan suara bergetar. Ibunya menoleh ke arahnya dengan terkejut. Ia meraba sakunya dan ternyata amplop tersebut sudah tidak ada lagi di dalam sana.
“Apakah yang tertulis di surat ini benar, Ma?” tanya Mitha lagi dengan mata yang mulai berkaca – kaca. Ibunya mengangguk perlahan. Lalu Mitha buru – buru menghampirinya dan langsung memeluknya.
“Aku udah maafin Mama . . . aku udah maafin Mama,“ ucap Mitha terisak – isak. Air mata tumpah membasahi pundak Ibunya.
“Mitha . . . “
“Maafin semua kesalahan dan sikap Mitha selama ini ke Mama.”
“Mama udah maafin. Mama janji nggak akan buat kamu bersedih lagi. Mama akan jadi orang tua yang baik disisa umur Mama yang pendek ini.“
Mereka berdua saling berpelukan hangat. Seakan tak ingin lepas. Rasa ego yang besar yang mereka miliki selama ini seakan musnah dan hilang. Kebahagiaan yang selama ini jauh dari kehidupan akan segera di bangun kembali, walaupun telah menjadi reruntuhan puing – puing yang hancur. Semua itu akan merekat kembali menjadi satu dengan semen cinta dan kasih sayang di antara keduanya.
“Kebahagiaan berakar dalam batin dan tumbuh di atas ketentraman jiwa”
(Kurt Kauffman).
♥♥♥
“Kasus pembunuhan yang terjadi di kota Pangkalpinang propinsi Bangka – Belitung beberapa waktu yang lalu yang dilakukan oleh Andrey Wiguna alias Rey akhirnya ditutup oleh Tim Penyidik Kepolisian setelah Rey ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa karena gantung diri di Pantai Tanjung Kelayang beberapa waktu yang lalu. Pengakuan mengejutkan datang dari mulut pacar Rey, Mitha. Ia mengaku bahwa Rey membunuh Eric karena Eric telah memperkosanya. Hal ini mementahkan isu yang berkembang di masyarakat selama ini tentang adanya motif cinta segitiga. Namun, mengapa Mitha baru mengaku sekarang? Menurut wawancara kami dengan Mitha beberapa waktu yang lalu, sebelumnya ia memang tidak mengetahui apa sebenarnya penyebab Rey membunuh Eric. Ia baru mengetahuinya setelah tanpa diduga – duga Rey menghubungi ponselnya sehari sebelum ia diketahui tewas gantung diri. Pada saat itu Rey meminta maaf kepadanya sekaligus menjelaskan apa sebenarnya motifnya membunuh Eric . . . . . . . . . . ”
Chaca menutup jendela internet explorernya. Ia tertegun sejenak setelah membaca berita tersebut. Ia teringat akan sikapnya terhadap Mitha di pemakaman beberapa waktu yang lalu. Betapa tidak beralasannya dia menuduh Mitha yang tidak – tidak seperti itu. Betapa berdosanya ia terhadap Mitha. Dan betapa kekanak – kanakannya dirinya. Masih terbayang di pelupuk matanya bagaimana ekspresi wajah Mitha yang tak berdosa itu saat dituduh yang bukan – bukan olehnya. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa ia mempunyai pikiran yang sekonyol dan sepicik itu.
Entah dari mana datangnya ide yang tak beralasan tersebut sehingga mampu membuatnya lepas kendali untuk menuduh Mitha melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan. Mengapa ia tidak mau mendengarkan penjelasan Mitha pada waktu itu. Entah setan apa yang telah berhasil menyumbat lubang telinga dan menutup mata hatinya hingga penjelasan yang keluar dari mulut Mitha hanyalah seperti sebuah omong kosong yang tidak patut untuk diperdengarkan.
“Haaaahhh . . . !!!!!“ teriaknya kesal. Ia membanting tumpukan – tumpukan buku yang berada di samping monitor komputernya hingga buku – buku tersebut jatuh berserakan di lantai. Ia menyesal dan sangat terpukul sekali. Apalagi setelah ia tahu bahwa Eric telah memperkosa Mitha.
“Eric . . . kau sungguh manusia yang tak bermoral!!“ ucapnya emosi. Seketika ia teringat akan ucapan Mitha yang mengatakan bahwa Eric melihatnya dengan tatapan penuh nafsu saat di cafĂ© waktu itu, “Ya . . . Mitha benar . . . Mitha benar. Aku memang jahat.”
Malam itu juga Chaca langsung mengemasi pakaiannya dan menelpon agen perjalanan untuk reservasi tiket pesawat. Yang ada di pikirannya malam itu cuma satu. Ia ingin secepatnya pulang ke Pulau Bangka dan segera menemui Mitha untuk meminta maaf.
♥♥♥
“Sekarang semuanya telah terbukti. Aku tidak bersalah. Justru Ericlah yang bersalah.”
“Aku sudah tau semuanya, ‘Tha. Aku membaca beritanya dari internet. Aku minta maaf karena telah menuduhmu yang tidak – tidak waktu itu. Aku menyesal . . “ ucap Chaca dengan wajah yang sangat bersalah.
“Sudahlah ‘Ca, aku sudah memaafkanmu.”
Chaca menarik napas lega.
“Aku juga turut sedih atas apa yang telah menimpamu. Tak kusangka Eric bisa berbuat hal yang tidak beradab seperti itu kepadamu. Dia memang tidak bermoral!! BAJINGAN!!!” geram Chaca.
Suasana hening sejenak. Mitha menyandarkan dirinya pada sebuah bangku taman. Sementara Chaca tak tahu apa yang harus dibicarakannya selanjutnya. Ia merasa gugup dan kehilangan kata - kata di hadapan orang yang telah ia tuduh seenaknya dan kini orang tersebut telah memaafkannya dengan tulus.
“Sebenarnya berita yang kau baca dari internet itu tidak semuanya benar,” ucap Mitha tiba – tiba membuyarkan lamunan Chaca.
“He-eh . . . Maksudmu?” tanyanya mendekat ke Mitha dan duduk di sebelahnya. Raut wajahnya menunjukkan gurat – gurat keingintahuan.
“Aku ingin kau mengetahui satu hal yang mungkin akan membuatmu syok. Sama seperti aku saat Rey mengucapkannya di hadapanku,” ujar Mitha makin membuat Chaca ingin tahu.
“Hal apa, ‘Tha?”
Mitha menghela napas yang panjang sebelum melontarkan jawaban tersebut.
“Rey dan Eric adalah pasangan gay. Ya . . . mereka gay,” jawab Mitha dengan mata berkaca – kaca. Chaca terkejut bukan kepalang mendengar Mitha berkata seperti itu.
“Ga . . gay maksudmu?”
“Benar ‘Ca. Aku benar – benar tidak menyangka kalau Rey adalah seorang Gay. Dia sendiri yang mengaku padaku waktu aku bertemu dengannya di pantai.”
“Bertemu di pantai?” tanya Chaca heran.
“Aku berbohong di media. Sebenarnya Rey tidak menelponku, tapi akulah yang bertemu dengannya di pantai secara tidak sengaja. Pada saat itu aku meminta dia menjelaskan semuanya.”
“jadi . . . ?”
“Ya . . . aku menemukan Rey dan salahku tidak menelpon Polisi waktu itu. Aku hanya ingin dia bersikap gentleman, seperti sikap yang dia tunjukkan selama ini padaku,” ucap Mitha membela diri.
Chaca mendengarkannya dengan serius walaupun di wajahnya masih tampak gurat – gurat keterkejutan yang teramat sangat.
“Selain gay, Eric juga seorang gigolo. Mungkin! Karena Rey bilang, Eric pernah kencan dengan Mamaku.”
Chaca tak bisa berkata apa – apa setelah mendengar ucapan Mitha tersebut. Ia hanya bisa terkejut dan seakan tak percaya bahwa Eric adalah seseorang yang bisa berbuat hal – hal yang amoral seperti itu. Ia juga tak habis pikir, kenapa Eric bisa mencintainya seperti layaknya seorang pria mencintai seorang wanita pada umumnya.
“Aku tidak mengerti ‘Tha. Kalau Eric gay, kenapa dia mau berhubungan denganku?” tanya Chaca heran.
“Mungkin Eric cowok straight,” jawab Mitha cepat.
“Straight????”
“Ya, cowok yang suka wanita tapi juga suka dengan pria. Tapi celakanya, cintanya yang terbesar hanya untuk Rey, tidak untukmu. Dia menjalin hubungan denganmu mungkin hanya untuk sekedar having fun semata. Maaf aku berbicara seperti itu.”
“Sekarang aku mengerti, kenapa saat itu dia menyobek – nyobek foto – foto kebersamaannya dengan Rey dan tak henti – hentinya berbicara tentang Rey tiap ada kesempatan. Lantas hubunganmu dengan Rey?”
“Rey menjalin hubungan denganku karena dia ingin berubah. Dia ingin sekali berubah menjadi laki – laki normal. Dia ingin bisa mencintai seorang wanita dengan sepenuh hatinya. Tapi kenyataannya, dia tetap tak bisa,” ucap Mitha menerawang. Matanya mulai berkaca – kaca. Chaca mengelus pundaknya hangat.
“Hal itulah yang membuat Eric sakit hati. Dia merasa dicampakkan oleh Rey. Dia cemburu. Sejak saat itu dia mulai melancarkan berbagai cara untuk membalas sakit hatinya kepada Rey, salah satunya dengan memperkosaku.”
“Walaupun dia gay, di mataku, Rey tetaplah seorang laki – laki sejati. Aku membencinya tapi aku juga mencintainya. Dia akan tetap selalu ada di dalam hatiku, walaupun sekarang dia telah pergi jauh untuk selama – lamanya,” lanjut Mitha dengan air mata yang tak dapat dibendung lagi. Spontan Chaca memeluknya dengan hangat. Seketika air mata tumpah membanjiri pipinya yang putih mulus.
“Sudah ‘Tha. Kamu nggak sendirian. Bukankah aku juga mengalami hal yang sama denganmu? Kita berdua sama – sama ditipu. Aku juga tidak menyangka kalau Eric adalah seorang gay. Karena saat aku menjalin hubungan dengannya, dia tidak pernah menunjukkan tindakan – tindakan yang mencurigakan. Aku memang tau dia berteman dengan Rey. Dia bilang Rey adalah sahabatnya. Namun, aku benar – benar tidak menyangka kalau hubungan mereka ternyata lebih dari itu,” ucap Chaca panjang lebar.
Mitha melepaskan pelukan Chaca.
“Aku ingin memulai lembaran hidup yang baru, ‘Ca? Aku ingin melupakan semuanya,” ucapnya dengan suara serak. Chaca menatap wajahnya dan menghapus air matanya.
“Akupun begitu, ‘Tha. Tak enak rasanya hidup dengan bayang – bayang masa lalu. Anggap saja semua peristiwa ini adalah pelajaran yang berharga untuk kita. Sekarang . . . . kita berteman ‘kan?” ucap Chaca menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan Mitha. Mitha menyambutnya dengan mengaitkan jari kelingkingnya.
“Bukan berteman, tapi bersahabat . . . “
Dua tahun kemudian . . . . . . .
“Ayo naik ke atas!!” teriak Mitha dari atas kepada seorang cowok kurus berkacamata dan mempunyai lesung pipit di pipi kirinya itu.
“Nggak ah! Di bawah aja!!” teriaknya.
“Ayo Rey!!” teriak Mitha lagi sambil meraih tangan Rey dan menariknya ke atas.
“Tu liat? Indahkan pemandangannya?”
Rey mengangguk pelan. Ia tersenyum sambil menghirup udaranya dalam – dalam. Ia merentangkan kedua tangannya di ujung batu besar tersebut. Baju kemejanya melayang – layang seperti terbang. Mitha tertegun melihat pemandangan itu. Tanpa sadar airmata menetes dan mengalir di pipinya. Rey melihatnya dengan heran.
“Ada apa Mit?” tanyanya dengan nada heran. Mitha menyeka air matanya dan langsung memeluk tubuh Rey. Rey mengusap rambut panjangnya dengan lembut. Perlahan Mitha melepaskan pelukannya.
“Gaya kamu tadi mengingatkan aku pada seseorang,” ucapnya lirih. Rey mengernyitkan dahinya.
“Siapa?”
“Orang yang paling kucintai.”
“Siapa dia Mit?” tanya Rey lagi dengan raut wajah yang sedikit cemburu.
“Namanya Rey,” jawabnya singkat. Rey makin tidak mengerti.
“Kamu lucu ya Mit. Itu aku ‘kan?” tanyanya tertawa kecil.
Mitha berjalan perlahan menuju pohon beringin besar yang tumbuh di atas celah batu granit besar tersebut.
“Dulu aku punya pacar. Namanya Rey.”
“Oh . . . aku sekarang tau, kamu terima aku jadi cowok kamu karena namaku sama dengan mantan kamu yang dulu,” komentar Rey dengan nada malas. Mitha mengelus pipinya pelan.
“Kau cemburu?” tanya Mitha tersenyum manis.
“Aku nggak cemburu, siapa lagi yang cemburu?” bantahnya dengan salah tingkah.
“Kamu nggak perlu cemburu lagi sama orang yang telah meninggal,” ucap Mitha mengejutkan Rey.
“Maksudmu?”
“Ya, Rey telah meninggal. Dia bunuh diri. Tepatnya di sini, di pohon beringin itu,” jawab Mitha seraya menunjuk pohon beringin besar nan rimbun yang tidak diketahui berapa usianya itu. Wusshh . . . . !!!! seketika hembusan angin menjadi kencang menerbangkan dedaunan kering yang berserakan di bawahnya. Tiba – tiba tubuh Rey menjadi dingin. Bulu kuduknya berdiri. Ia merapatkan kedua tangannya di dada.
“Andrey Wiguna, anak dari pengusaha Hady Wiguna, menjadi buronan setelah membunuh temannya sendiri, Eric. Kemudian dia membunuh istri muda Ayahnya dan terakhir dia mengakhiri hidupnya di sini,” kenang Mitha. Dahan pohon beringin tersebut mulai bergerak – gerak ditiup angin. Bunyinya gemerisik seakan memberi pertanda bahwa Rey hadir di tengah – tengah mereka berdua.
“Tragis sekali nasibnya.”
“Kau tau mengapa dia membunuh temannya?” tanya Mitha. Rey menggelelng.
“Dia membunuh temannya karena temannya tersebut telah memperkosa aku.”
Rey terkejut mendengarnya. Satu hal penting yang tidak diketahui olehnya selama ini akhirnya terungkap dari bibir Mitha sendiri.
“Apa? Perkosaan?” katanya terkejut.
“Ya, aku ingin jujur kepadamu Rey. Dan kuharap kau bisa mengerti. Kalaupun kau ingin meninggalkanku sekarang, aku siap menerimanya,” ucapnya dengan mata berkaca – kaca. Rey memegang kedua tangannya. Lalu ia meminta Mitha melanjutkan cerita.
“Eric memperkosaku karena dia cemburu kepada Rey.”
Rey mengernyitkan dahinya.
“Cemburu?”
“Ya, karena Rey adalah seorang Gay. Sebelum dia menjalani hubungan denganku, dia sudah lebih dulu berhubungan dengan Eric. Perilaku mereka menyimpang. Rey memacariku hanya untuk menjadikanku alat agar dia berubah menjadi laki - laki normal. Aku tidak tau kalau Rey membohongiku. Dia bilang cinta padahal hatinya bilang tidak. Dia terima ciuman dariku padahal dia sendiri tidak menikmatinya,” tuturnya dengan berderai air mata. Rey memeluknya.
“Sudahlah Mit. Yang lalu biarlah berlalu. Aku bisa menerimamu apa adanya walaupun dulu kau pernah dilecehkan,” kata Rey menenangkan sambil mengusap punggungnya pelan.
“Terima kasih Rey,” ucap Mitha dengan suara yang serak.
“Aku bisa menggantikan sosok Andrey yang pernah kau cintai dulu. Tentunya aku bukan GAY seperti dia. Aku REY!!! Pria sejati yang akan mencintaimu dengan sepenuh hati,” katanya membanggakan diri. Mitha mencubit gemas perutnya. Lalu ia memeluk tubuh Rey semakin erat. Bibirnya tersenyum bahagia.
♥♥♥
“Walaupun kau telah tiada, kau tetap akan selalu ada di dalam hatiku, Rey? Aku tidak bisa membencimu walaupun telah kucoba berulangkali. Kini aku memulai lembaran kisah hidup yang baru. Semua telah banyak berubah Rey. Mama telah bercerai dengan Papa. Walaupun Mama bahagia telah lepas dari penderitaan batin selama beberapa tahun ini namun penderitaan lain yang tak kalah hebatnya datang mendera. Mama terkena kanker otak, Rey. Sesuatu hal yang tidak pernah kusangka dan tidak pernah kuduga sebelumnya. Keadaan Mama semakin ringkih, tidak seperti yang dulu. Aku kasihan melihatnya. Aku selalu berdoa semoga datang keajaiban untuk Mama agar bisa sembuh. Walaupun kita semua tahu, bahwa hanya sedikit saja orang yang menderita kanker otak bisa sembuh secara total. Tapi aku tetap yakin, suatu saat keajaiban itu akan datang menghampiri Mama.
Kau lihat!! sekarang aku juga punya pacar. Namanya REY. Sama saat aku memanggilmu dulu. Oya, kalung liontin pemberianmu masih kusimpan baik – baik, begitupun dengan jaketmu. Kau dulu pernah berkata “Jika kau rindu aku, pakai saja jaketnya. Aku akan hadir di dekatmu.” Aku selalu ingat akan kata – kata itu.
Rey, Aku tetap mencintaimu walaupun pada kenyataannya kau tidak mencintai aku. Ya . . . karena kau Gay. Tapi bagiku, kau tetap seorang laki – laki sejati. Anggap saja dulu aku mencintaimu hanya sebagai seorang sahabat, bukan sebagai seorang kekasih.”
TAMAT
by Rengga Trianto on Tuesday, April 19, 2011 at 7:24am
Di kamar Mitha termenung sambil memandangi foto Rey. Jari - jarinya menelusuri foto tersebut dengan mata berkaca – kaca. Semenjak kematian Rey yang begitu tragis, ia seperti kehilangan gairah hidup. Setiap ia ingat akan kenangan indahnya bersama Rey, setiap itu pulalah ia meneteskan air mata.
“Tidak ada gunanya kau menangisi laki – laki seperti itu,“ ucap Ibunya tiba – tiba berdiri di ambang pintu. Mitha menyeka air matanya. Ia diam tak menjawab.
“Yang lalu biarlah berlalu, Mit?” ucap Ibunya lagi seraya mendekat ke arahnya dan merangkul pundaknya hangat. Ia masih diam tak menjawab.
“Maafkan Mama Mit. Selama ini Mama selalu mentingin urusan Mama sendiri. Mama memang egois.“
Ia menatap Ibunya dengan tatapan tajam.
“Apakah Mama sadar akan kelakuan liar Mama?!“ tanyanya dengan nada emosi.
“Mama tau. Makanya sekarang Mama minta maaf. Kita mulai lagi lembaran hidup yang baru,“ ujar Ibunya dengan mata berkaca – kaca. Mitha mengalihkan pandangannya. Tak ingin melihat wajah Ibunya yang hanya akan membuat dirinya semakin terbawa emosi.
“Nggak semudah itu Ma. Udahlah!! Mama keluar aja. Aku mau sendirian sekarang,“ usirnya.
“Oke. . . Tapi satu hal yang mesti kau ingat. Kau tidak akan bisa memikul beban ini sendirian.“
Ibunya beranjak keluar dari kamarnya. Namun langkahnya tertahan di ambang pintu. Ia merasa kecewa karena telah gagal meluluhkan hati Mitha untuk dapat memaafkannya. Diam – diam ia mengeluarkan amplop berwarna putih bersih dari dalam sakunya. Amplop tersebut ia pegang dengan tangan bergetar.
“Andaikan kau tau ini?“ batinnya.
Amplop tersebut ia masukkan kembali ke dalam sakunya dan berlalu dari depan pintu kamar Mitha tanpa menyadari bahwa amplop tersebut telah terjatuh ke lantai. Sekelebat Mitha melihat amplop tersebut terjatuh. Diam – diam ia mengambilnya dan membacanya.
“KANKER OTAK??”
Jelegar!!! Bagaikan petir menyambar di siang hari, dadanya terasa sesak saat mengetahui isi amplop tersebut. Saat itu juga, runtuhlah semua rasa benci dan muak yang selama ini menyelimuti hatinya terhadap Ibunya.
Sementara itu, Ibunya berjalan gontai menuruni anak tangga. Pikiran dan tatapan matanya kosong. Ia menatap miris deretan bingkai – bingkai foto yang tergantung rapi di sepanjang dinding anak tangga. Hatinya hancur sekali. Menuruni anak tangga tersebut seakan berjalan di sebuah lorong waktu yang mengingatkan dirinya akan memori – memori indah terdahulu. Ia berhenti di salah satu bingkai foto.
“Mas, kenapa kau berselingkuh? Kurang apa aku ini?“ ucapnya lirih. Jari – jemarinya menelusuri foto tersebut. Perlahan air mata mengalir dari pelupuk matanya.
“Aku rindu saat – saat kita bersama dulu?“ ucapnya terisak. Ia kembali menuruni anak tangga hingga ke bawah. Tapi langkahnya tertahan oleh suara Mitha.
“Ini amplop apa, Ma?“ tanya Mitha dengan suara bergetar. Ibunya menoleh ke arahnya dengan terkejut. Ia meraba sakunya dan ternyata amplop tersebut sudah tidak ada lagi di dalam sana.
“Apakah yang tertulis di surat ini benar, Ma?” tanya Mitha lagi dengan mata yang mulai berkaca – kaca. Ibunya mengangguk perlahan. Lalu Mitha buru – buru menghampirinya dan langsung memeluknya.
“Aku udah maafin Mama . . . aku udah maafin Mama,“ ucap Mitha terisak – isak. Air mata tumpah membasahi pundak Ibunya.
“Mitha . . . “
“Maafin semua kesalahan dan sikap Mitha selama ini ke Mama.”
“Mama udah maafin. Mama janji nggak akan buat kamu bersedih lagi. Mama akan jadi orang tua yang baik disisa umur Mama yang pendek ini.“
Mereka berdua saling berpelukan hangat. Seakan tak ingin lepas. Rasa ego yang besar yang mereka miliki selama ini seakan musnah dan hilang. Kebahagiaan yang selama ini jauh dari kehidupan akan segera di bangun kembali, walaupun telah menjadi reruntuhan puing – puing yang hancur. Semua itu akan merekat kembali menjadi satu dengan semen cinta dan kasih sayang di antara keduanya.
“Kebahagiaan berakar dalam batin dan tumbuh di atas ketentraman jiwa”
(Kurt Kauffman).
♥♥♥
“Kasus pembunuhan yang terjadi di kota Pangkalpinang propinsi Bangka – Belitung beberapa waktu yang lalu yang dilakukan oleh Andrey Wiguna alias Rey akhirnya ditutup oleh Tim Penyidik Kepolisian setelah Rey ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa karena gantung diri di Pantai Tanjung Kelayang beberapa waktu yang lalu. Pengakuan mengejutkan datang dari mulut pacar Rey, Mitha. Ia mengaku bahwa Rey membunuh Eric karena Eric telah memperkosanya. Hal ini mementahkan isu yang berkembang di masyarakat selama ini tentang adanya motif cinta segitiga. Namun, mengapa Mitha baru mengaku sekarang? Menurut wawancara kami dengan Mitha beberapa waktu yang lalu, sebelumnya ia memang tidak mengetahui apa sebenarnya penyebab Rey membunuh Eric. Ia baru mengetahuinya setelah tanpa diduga – duga Rey menghubungi ponselnya sehari sebelum ia diketahui tewas gantung diri. Pada saat itu Rey meminta maaf kepadanya sekaligus menjelaskan apa sebenarnya motifnya membunuh Eric . . . . . . . . . . ”
Chaca menutup jendela internet explorernya. Ia tertegun sejenak setelah membaca berita tersebut. Ia teringat akan sikapnya terhadap Mitha di pemakaman beberapa waktu yang lalu. Betapa tidak beralasannya dia menuduh Mitha yang tidak – tidak seperti itu. Betapa berdosanya ia terhadap Mitha. Dan betapa kekanak – kanakannya dirinya. Masih terbayang di pelupuk matanya bagaimana ekspresi wajah Mitha yang tak berdosa itu saat dituduh yang bukan – bukan olehnya. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa ia mempunyai pikiran yang sekonyol dan sepicik itu.
Entah dari mana datangnya ide yang tak beralasan tersebut sehingga mampu membuatnya lepas kendali untuk menuduh Mitha melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan. Mengapa ia tidak mau mendengarkan penjelasan Mitha pada waktu itu. Entah setan apa yang telah berhasil menyumbat lubang telinga dan menutup mata hatinya hingga penjelasan yang keluar dari mulut Mitha hanyalah seperti sebuah omong kosong yang tidak patut untuk diperdengarkan.
“Haaaahhh . . . !!!!!“ teriaknya kesal. Ia membanting tumpukan – tumpukan buku yang berada di samping monitor komputernya hingga buku – buku tersebut jatuh berserakan di lantai. Ia menyesal dan sangat terpukul sekali. Apalagi setelah ia tahu bahwa Eric telah memperkosa Mitha.
“Eric . . . kau sungguh manusia yang tak bermoral!!“ ucapnya emosi. Seketika ia teringat akan ucapan Mitha yang mengatakan bahwa Eric melihatnya dengan tatapan penuh nafsu saat di cafĂ© waktu itu, “Ya . . . Mitha benar . . . Mitha benar. Aku memang jahat.”
Malam itu juga Chaca langsung mengemasi pakaiannya dan menelpon agen perjalanan untuk reservasi tiket pesawat. Yang ada di pikirannya malam itu cuma satu. Ia ingin secepatnya pulang ke Pulau Bangka dan segera menemui Mitha untuk meminta maaf.
♥♥♥
“Sekarang semuanya telah terbukti. Aku tidak bersalah. Justru Ericlah yang bersalah.”
“Aku sudah tau semuanya, ‘Tha. Aku membaca beritanya dari internet. Aku minta maaf karena telah menuduhmu yang tidak – tidak waktu itu. Aku menyesal . . “ ucap Chaca dengan wajah yang sangat bersalah.
“Sudahlah ‘Ca, aku sudah memaafkanmu.”
Chaca menarik napas lega.
“Aku juga turut sedih atas apa yang telah menimpamu. Tak kusangka Eric bisa berbuat hal yang tidak beradab seperti itu kepadamu. Dia memang tidak bermoral!! BAJINGAN!!!” geram Chaca.
Suasana hening sejenak. Mitha menyandarkan dirinya pada sebuah bangku taman. Sementara Chaca tak tahu apa yang harus dibicarakannya selanjutnya. Ia merasa gugup dan kehilangan kata - kata di hadapan orang yang telah ia tuduh seenaknya dan kini orang tersebut telah memaafkannya dengan tulus.
“Sebenarnya berita yang kau baca dari internet itu tidak semuanya benar,” ucap Mitha tiba – tiba membuyarkan lamunan Chaca.
“He-eh . . . Maksudmu?” tanyanya mendekat ke Mitha dan duduk di sebelahnya. Raut wajahnya menunjukkan gurat – gurat keingintahuan.
“Aku ingin kau mengetahui satu hal yang mungkin akan membuatmu syok. Sama seperti aku saat Rey mengucapkannya di hadapanku,” ujar Mitha makin membuat Chaca ingin tahu.
“Hal apa, ‘Tha?”
Mitha menghela napas yang panjang sebelum melontarkan jawaban tersebut.
“Rey dan Eric adalah pasangan gay. Ya . . . mereka gay,” jawab Mitha dengan mata berkaca – kaca. Chaca terkejut bukan kepalang mendengar Mitha berkata seperti itu.
“Ga . . gay maksudmu?”
“Benar ‘Ca. Aku benar – benar tidak menyangka kalau Rey adalah seorang Gay. Dia sendiri yang mengaku padaku waktu aku bertemu dengannya di pantai.”
“Bertemu di pantai?” tanya Chaca heran.
“Aku berbohong di media. Sebenarnya Rey tidak menelponku, tapi akulah yang bertemu dengannya di pantai secara tidak sengaja. Pada saat itu aku meminta dia menjelaskan semuanya.”
“jadi . . . ?”
“Ya . . . aku menemukan Rey dan salahku tidak menelpon Polisi waktu itu. Aku hanya ingin dia bersikap gentleman, seperti sikap yang dia tunjukkan selama ini padaku,” ucap Mitha membela diri.
Chaca mendengarkannya dengan serius walaupun di wajahnya masih tampak gurat – gurat keterkejutan yang teramat sangat.
“Selain gay, Eric juga seorang gigolo. Mungkin! Karena Rey bilang, Eric pernah kencan dengan Mamaku.”
Chaca tak bisa berkata apa – apa setelah mendengar ucapan Mitha tersebut. Ia hanya bisa terkejut dan seakan tak percaya bahwa Eric adalah seseorang yang bisa berbuat hal – hal yang amoral seperti itu. Ia juga tak habis pikir, kenapa Eric bisa mencintainya seperti layaknya seorang pria mencintai seorang wanita pada umumnya.
“Aku tidak mengerti ‘Tha. Kalau Eric gay, kenapa dia mau berhubungan denganku?” tanya Chaca heran.
“Mungkin Eric cowok straight,” jawab Mitha cepat.
“Straight????”
“Ya, cowok yang suka wanita tapi juga suka dengan pria. Tapi celakanya, cintanya yang terbesar hanya untuk Rey, tidak untukmu. Dia menjalin hubungan denganmu mungkin hanya untuk sekedar having fun semata. Maaf aku berbicara seperti itu.”
“Sekarang aku mengerti, kenapa saat itu dia menyobek – nyobek foto – foto kebersamaannya dengan Rey dan tak henti – hentinya berbicara tentang Rey tiap ada kesempatan. Lantas hubunganmu dengan Rey?”
“Rey menjalin hubungan denganku karena dia ingin berubah. Dia ingin sekali berubah menjadi laki – laki normal. Dia ingin bisa mencintai seorang wanita dengan sepenuh hatinya. Tapi kenyataannya, dia tetap tak bisa,” ucap Mitha menerawang. Matanya mulai berkaca – kaca. Chaca mengelus pundaknya hangat.
“Hal itulah yang membuat Eric sakit hati. Dia merasa dicampakkan oleh Rey. Dia cemburu. Sejak saat itu dia mulai melancarkan berbagai cara untuk membalas sakit hatinya kepada Rey, salah satunya dengan memperkosaku.”
“Walaupun dia gay, di mataku, Rey tetaplah seorang laki – laki sejati. Aku membencinya tapi aku juga mencintainya. Dia akan tetap selalu ada di dalam hatiku, walaupun sekarang dia telah pergi jauh untuk selama – lamanya,” lanjut Mitha dengan air mata yang tak dapat dibendung lagi. Spontan Chaca memeluknya dengan hangat. Seketika air mata tumpah membanjiri pipinya yang putih mulus.
“Sudah ‘Tha. Kamu nggak sendirian. Bukankah aku juga mengalami hal yang sama denganmu? Kita berdua sama – sama ditipu. Aku juga tidak menyangka kalau Eric adalah seorang gay. Karena saat aku menjalin hubungan dengannya, dia tidak pernah menunjukkan tindakan – tindakan yang mencurigakan. Aku memang tau dia berteman dengan Rey. Dia bilang Rey adalah sahabatnya. Namun, aku benar – benar tidak menyangka kalau hubungan mereka ternyata lebih dari itu,” ucap Chaca panjang lebar.
Mitha melepaskan pelukan Chaca.
“Aku ingin memulai lembaran hidup yang baru, ‘Ca? Aku ingin melupakan semuanya,” ucapnya dengan suara serak. Chaca menatap wajahnya dan menghapus air matanya.
“Akupun begitu, ‘Tha. Tak enak rasanya hidup dengan bayang – bayang masa lalu. Anggap saja semua peristiwa ini adalah pelajaran yang berharga untuk kita. Sekarang . . . . kita berteman ‘kan?” ucap Chaca menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan Mitha. Mitha menyambutnya dengan mengaitkan jari kelingkingnya.
“Bukan berteman, tapi bersahabat . . . “
Dua tahun kemudian . . . . . . .
“Ayo naik ke atas!!” teriak Mitha dari atas kepada seorang cowok kurus berkacamata dan mempunyai lesung pipit di pipi kirinya itu.
“Nggak ah! Di bawah aja!!” teriaknya.
“Ayo Rey!!” teriak Mitha lagi sambil meraih tangan Rey dan menariknya ke atas.
“Tu liat? Indahkan pemandangannya?”
Rey mengangguk pelan. Ia tersenyum sambil menghirup udaranya dalam – dalam. Ia merentangkan kedua tangannya di ujung batu besar tersebut. Baju kemejanya melayang – layang seperti terbang. Mitha tertegun melihat pemandangan itu. Tanpa sadar airmata menetes dan mengalir di pipinya. Rey melihatnya dengan heran.
“Ada apa Mit?” tanyanya dengan nada heran. Mitha menyeka air matanya dan langsung memeluk tubuh Rey. Rey mengusap rambut panjangnya dengan lembut. Perlahan Mitha melepaskan pelukannya.
“Gaya kamu tadi mengingatkan aku pada seseorang,” ucapnya lirih. Rey mengernyitkan dahinya.
“Siapa?”
“Orang yang paling kucintai.”
“Siapa dia Mit?” tanya Rey lagi dengan raut wajah yang sedikit cemburu.
“Namanya Rey,” jawabnya singkat. Rey makin tidak mengerti.
“Kamu lucu ya Mit. Itu aku ‘kan?” tanyanya tertawa kecil.
Mitha berjalan perlahan menuju pohon beringin besar yang tumbuh di atas celah batu granit besar tersebut.
“Dulu aku punya pacar. Namanya Rey.”
“Oh . . . aku sekarang tau, kamu terima aku jadi cowok kamu karena namaku sama dengan mantan kamu yang dulu,” komentar Rey dengan nada malas. Mitha mengelus pipinya pelan.
“Kau cemburu?” tanya Mitha tersenyum manis.
“Aku nggak cemburu, siapa lagi yang cemburu?” bantahnya dengan salah tingkah.
“Kamu nggak perlu cemburu lagi sama orang yang telah meninggal,” ucap Mitha mengejutkan Rey.
“Maksudmu?”
“Ya, Rey telah meninggal. Dia bunuh diri. Tepatnya di sini, di pohon beringin itu,” jawab Mitha seraya menunjuk pohon beringin besar nan rimbun yang tidak diketahui berapa usianya itu. Wusshh . . . . !!!! seketika hembusan angin menjadi kencang menerbangkan dedaunan kering yang berserakan di bawahnya. Tiba – tiba tubuh Rey menjadi dingin. Bulu kuduknya berdiri. Ia merapatkan kedua tangannya di dada.
“Andrey Wiguna, anak dari pengusaha Hady Wiguna, menjadi buronan setelah membunuh temannya sendiri, Eric. Kemudian dia membunuh istri muda Ayahnya dan terakhir dia mengakhiri hidupnya di sini,” kenang Mitha. Dahan pohon beringin tersebut mulai bergerak – gerak ditiup angin. Bunyinya gemerisik seakan memberi pertanda bahwa Rey hadir di tengah – tengah mereka berdua.
“Tragis sekali nasibnya.”
“Kau tau mengapa dia membunuh temannya?” tanya Mitha. Rey menggelelng.
“Dia membunuh temannya karena temannya tersebut telah memperkosa aku.”
Rey terkejut mendengarnya. Satu hal penting yang tidak diketahui olehnya selama ini akhirnya terungkap dari bibir Mitha sendiri.
“Apa? Perkosaan?” katanya terkejut.
“Ya, aku ingin jujur kepadamu Rey. Dan kuharap kau bisa mengerti. Kalaupun kau ingin meninggalkanku sekarang, aku siap menerimanya,” ucapnya dengan mata berkaca – kaca. Rey memegang kedua tangannya. Lalu ia meminta Mitha melanjutkan cerita.
“Eric memperkosaku karena dia cemburu kepada Rey.”
Rey mengernyitkan dahinya.
“Cemburu?”
“Ya, karena Rey adalah seorang Gay. Sebelum dia menjalani hubungan denganku, dia sudah lebih dulu berhubungan dengan Eric. Perilaku mereka menyimpang. Rey memacariku hanya untuk menjadikanku alat agar dia berubah menjadi laki - laki normal. Aku tidak tau kalau Rey membohongiku. Dia bilang cinta padahal hatinya bilang tidak. Dia terima ciuman dariku padahal dia sendiri tidak menikmatinya,” tuturnya dengan berderai air mata. Rey memeluknya.
“Sudahlah Mit. Yang lalu biarlah berlalu. Aku bisa menerimamu apa adanya walaupun dulu kau pernah dilecehkan,” kata Rey menenangkan sambil mengusap punggungnya pelan.
“Terima kasih Rey,” ucap Mitha dengan suara yang serak.
“Aku bisa menggantikan sosok Andrey yang pernah kau cintai dulu. Tentunya aku bukan GAY seperti dia. Aku REY!!! Pria sejati yang akan mencintaimu dengan sepenuh hati,” katanya membanggakan diri. Mitha mencubit gemas perutnya. Lalu ia memeluk tubuh Rey semakin erat. Bibirnya tersenyum bahagia.
♥♥♥
“Walaupun kau telah tiada, kau tetap akan selalu ada di dalam hatiku, Rey? Aku tidak bisa membencimu walaupun telah kucoba berulangkali. Kini aku memulai lembaran kisah hidup yang baru. Semua telah banyak berubah Rey. Mama telah bercerai dengan Papa. Walaupun Mama bahagia telah lepas dari penderitaan batin selama beberapa tahun ini namun penderitaan lain yang tak kalah hebatnya datang mendera. Mama terkena kanker otak, Rey. Sesuatu hal yang tidak pernah kusangka dan tidak pernah kuduga sebelumnya. Keadaan Mama semakin ringkih, tidak seperti yang dulu. Aku kasihan melihatnya. Aku selalu berdoa semoga datang keajaiban untuk Mama agar bisa sembuh. Walaupun kita semua tahu, bahwa hanya sedikit saja orang yang menderita kanker otak bisa sembuh secara total. Tapi aku tetap yakin, suatu saat keajaiban itu akan datang menghampiri Mama.
Kau lihat!! sekarang aku juga punya pacar. Namanya REY. Sama saat aku memanggilmu dulu. Oya, kalung liontin pemberianmu masih kusimpan baik – baik, begitupun dengan jaketmu. Kau dulu pernah berkata “Jika kau rindu aku, pakai saja jaketnya. Aku akan hadir di dekatmu.” Aku selalu ingat akan kata – kata itu.
Rey, Aku tetap mencintaimu walaupun pada kenyataannya kau tidak mencintai aku. Ya . . . karena kau Gay. Tapi bagiku, kau tetap seorang laki – laki sejati. Anggap saja dulu aku mencintaimu hanya sebagai seorang sahabat, bukan sebagai seorang kekasih.”
TAMAT
Langganan:
Postingan (Atom)