Senin, 11 April 2011

Drill sebagai strategi pembelajaran bab 1

BAB I
PENDAHULUAN


A. Penegasan Istilah
Supaya pembaca lebih mudah mengetahui isi dari buku ini dan tidak terjadi perbedaan persepsi, penulis merasa perlu untuk memaparkan istilah-istilah yang digunakan dalam skripsi yang berjudul “Upaya Mengatasi kesulitan siswa dalam menghafal surah-surah pendek dengan metode drill di kelas 1 SD Muhammadiyah Pangkalpinang.
1. Mengatasi adalah sesuatu hal yang masih belum dapat dipecahkan.
2. Kesulitan belajar yaitu keadaan yang sulit dalam usaha memperoleh kepandaian atau ilmu.
3. Kesulitan belajar dapat diselidiki dari aspek penguasaan pelajaran dan aspek pertumbuhan fisik. Dari aspek penguasaan pelajaran kesulitan belajar siswa dapat dilihat dari kemampuan membaca, menulis dan berhitung, sedangkan dari aspek fisik dapat diliihat dari hambatan berbicara, berfikir, mengingat dan hambatan fungsi indera.
4. Dari segi kebahasaan hafalan adalah berusaha meresapkan kedalam pikiran agar selalu ingat (tidak lupa).
5. Dan dalam aplikasi pembelajaran metode hapalan digunakan dalam menghafal kitab-kitab tertentu, juga sering dipakai untuk menghapal Al Qur’an baik surah-surah pendek maupun secara keseluruhan. .
6. Metode Drill atau metode latihan (training) merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu, serta sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik yang telah merupakan kenyataan. Juga metode ini digunakan untuk memperoleh sesuatu ketangkasan, ketepatan, kesempurnaan dan keterampilan latihan tentang sesuatu yang dipelajari.
Berdasarkan dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan permasalahan yang berkaitan dengan kesulitan belajar siswa dalam menghafal surah-surah pendek masih menjadi permasalahan yang sangat pelik terutama untuk anak didik yang masih di kelas kecil. Dasar pengajaran sangat ditentukan pada masa anak di kelas satu, dasar kemampuan, pengertian dan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan benar menjadi penekanan, dengan tidak melepaskan metode penyampaian pembelajaran yang aktif, menarik dan menyenangkan. Materi hafalan surah-surah pendek di kelas satu banyak yang belum menguasai, sehingga latihan-latihan menghafal yang kontinyu sedemikian rupa menjadi jalan untuk meningkatkan kemampuan hafalan anak didik.

B. Alasan Pemilihan Judul
Anak didik pada kelas dasar merupakan individu yang baru mulai mengenal dunia luar. Diri pribadi yang sebelumnya masih berkembang dalam lingkungan keluarga maka latihan keberanian untuk mengeksplorasi mulai berkembang dan tidak lepas dari sistem pembelajaran. Kebiasaan yang baik mulai ditekankan oleh guru atau pengajarnya. Alasan yang mendasari penelitian ini adalah:
1. Metode yang tepat dalam tahap ini sangat diperlukan untuk mencapai kemampuan optimal sesuai program pembelajaran dan kurikulum.
2. Perkembangan dapat terlihat dari dua aspek secara mental maupun akademik. Aspek mental berupa keberanian, sikap hormat, dan kesopanan. Dari segi akademik berupa penguasaan bahasa, matematika, juga pengetahuan yang bersifat kerohanian yang menjadi catatan khusus keagamaan anak didik. Minat dan kemampuan yang bersifat agama tak lepas dari kemampuan hafalan surah-surah pendek pun menjadi tolok ukur keagamaan anak didik.
3. Metode pembelajaran yang tepat dalam upaya penekanan pada sikap dan kebiasaan untuk meningkatkan ketangkasan, ketepatan, dan kesempurnaan menjadi penting untuk dilakukan, sebab anak didik yang sangat labil terhadap pengaruh kebiasaan yang ada di lingkungan menjadikan anak didik menjadi rentan dengan kebiasaan yang dinilai kurang baik. Metode drill merupakan metode yang sudah lama tetapi dirasakan masih sangat penting dalam pendidikan terutama anak didik di kelas rendah.
Dari pemikiran di atas penulis tertarik untuk memilih judul “Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa dalam Menghafal Surah-Surah Pendek dengan Metode Drill di Kelas 1 SD Muhammadiyah Pangkalpinang”


C. Latar Belakang Masalah
Peserta didik adalah subyek dan obyek pendidikan yang memerlukan bimbingan orang lain untuk membantu dan mengembangkan potensinya. Membimbingnya kearah kedewasaan, potensinya tidak akan berkembang optimal tanpa peran pendidik. Perlu disadari peserta didik bukanlah miniatur orang dewasa, mereka mempunyai dunia sendiri. Perlakuan yang sesuai bagi mereka pun tidak sama dengan bahan, teknik, metode, dan pendekatan dalam pengajaran bagi orang dewasa.
Guru dituntut mampu menyajikan pelajaran dengan baik dan mudah diterima oleh anak didik. Mencari cara yang paling mudah dipahami anak didik ini sedapat mungkin menghindarkan cara-cara yang membuat mereka mengalami kesukaran atau kesulitan, serta anak didik sebisa mungkin tidak merasa terbebani. Dalam Kitabullah surat Al Baqoroh ayat 185 Allah SWT berfirman:

        ...

Artinya: Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu

Dalam usaha menumbuhkembangkan jiwa keagamaan yang lurus sedini mungkin diajarkan baik di lingkungan keluarga maupun pada pendidikan formal. Pendidikan formal pada dasarnya adalah pendidikan lanjutan dari keluarga. Pengajaran berupa pembiasaan di rumah maupun pendidikan formal keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kebiasaan hidup beragama dalam lingkungan keluarga (rumah tangga) sudah merupakan pendidikan, walaupun sifatnya informal. Namun karena di keluarga adalah penyemaian pertama benih jiwa keagamaan maka maknanya sangat penting. Tiga fungsi pendidikan formal dalam Mansyur menyatakan:
1. “Membina secara formal pendidikan agama yang telah di mulai dalam rumah tangga yaitu memupuk jiwa keagamaan yang telah dimiliki.
2. Mendorong terbentuknya kebiasaan dan tumbuhnya iman sikap hidup menurut ketentuan agama islam.
3. Menunjang tercapainya tujuan pendidikan nasional”.

Kenyataan yang ada anak tidak suka terkungkung dan bekerja (melaksanakan tugas dalam rentang waktu yang panjang), mereka lebih suka bermain bola atau makan kacang sambil bercanda tidak karuan. Mereka tidak senang diatur oleh suatu kekuasaan karena mereka menghendaki keadaan yang santai tanpa tanggung jawab, dunia yang kacau dan tidak terjaga. Keadaan ini harus dipikirkan oleh guru, bagaimana cara yang bijaksana kita dapat membuat mereka untuk tenang mendengarkan pelajaran. Kesiapan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran agar anak-anak tidak merasa terkungkung dan mau memusatkan pikiran, sehingga tidak dirasakan sebagai perintah dari orang lain. Ini jelas memerlukan teknik yang khusus, penerapan tehnik yang tak lepas dari prinsip-prinsip dikdaktik.
Aktifitas anak didik yang sedemikian banyak merupakan suatu proses yang tidak lepas dari masa aktif tumbuh kembang anak. Pada hakikatnya anak selalu ingin bermain atau bekerja pada dasarnya adalah bergerak. Aktifitas gerak yang dilakukan anak didik merupakan kegiatan belajar. Aktifitas belajar tidak hanya melibatkan fungsi fisik saja, namun sikap pun tercakup di dalamnya.
Kegiatan sosialisasi berkelompok mulai terbentuk tidak menyimpang dengan tujuan pendidikan. Di mana pendidikan tidak akan maju atau berhasil jika hanya dilakukan sendiri tanpa dilakukan bersama-sama. Namun tidak bisa diabaikan bahwa manusia adalah juga makhluk individu. Mereka berbeda dalam kepintaran, kegemaran, bakat, latar belakang keluarga, sifat dan kebiasaan. Oleh karena itu walaupun anak belajar berkelompok guru juga harus mampu menyalurkan bakat dan minat setiap warga belajar. Warga belajar akan terarah jika di dorong untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan.
Proses belajar mengajar melibatkan interaksi antara pendidik dan anak didik. Hubungan tersebut akan mencapai tujuan apabila pendidik pada waktu mengajar memperhatikan anak didik yang dihadapinya. Dengan mengenal kondisi anak didik akan ditemukan metode mengajar yang sesuai dengan kondisi anak didik. Jika kita mengajar anak didik yang cacat pendengaran tentunya metode yang bersifat percakapan (ceramah) tidak efektif bagi mereka. Dalam memilih metode belajar Allah SWT memberikan petunjuk dalam surat Al Baqoroh ayat 185, bahwa mengajar atau berbicara dengan orang lain harus disesuaikan dengan kemampuan orang yang kita hadapi dengan firman-Nya

       ... 

Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Peran pendidik dalam proses pembelajaran menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan. Sekiranya pendidik baik maka pendidikan akan berjalan baik. Pendidik yang telah siap untuk mengajar dianggap sudah sanggup dan mampu memilih metode mengajar. Penguasaan pendidik dengan metode mengajar tentunya menjadi bekal guru dalam proses pembelajaran, jika sewaktu-waktu metode tersebut diperlukan.
Dalam praktik pembelajaran situasi dan fasilitas menentukan seberapa efektif metode mengajar dilaksanakan. Kondisi cuaca yang yang panas pada siang hari menantang guru untuk memilih metode yang tepat. Fasilitas yang minim maupun lengkap juga tidak mungkin guru memilih metode mengajar yang asal-asalan.
Komponen penting yang harus digunakan dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan meniscayakan metode yang tepat menjadi pilihan agar proses pembelajaran berlajan efektif. Sembilan prinsip dalam menggunakan metode mengajar yang tidak terlepas dari faktor perkembangan siswa, antara lain:
1. Metode mengajar harus memungkinkan dapat membangkitkan rasa ingin tahu siswa lebih jauh terhadadap materi pelajaran (curiosity).
2. Metode mengajar harus memungkinkan dapat memberikan peluang untuk berexpresi yang kreatif dalam aspek seni.
3. Metode mengajar harus memungkinkan siswa belajar melalui pemecahan masalah.
4. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk selalu ingin menguji kebenaran sesuatu.
5. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk melakukan penemuan (inkuiri) terhadap suatu topik permasalahan.
6. Metode mengajar harus memungkinkan siswa mampu menyimak
7. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri (independent study)
8. Mentode mengajar harus memungkinkan siswa untuk belajar secara bekerjasama (cooperative learning)
9. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk lebih termotivasi dalam belajarnya.
Perbedaan individual yang rumit menuntut guru menggunakan metode yang tepat dan efektif, sebab apabila hal tersebut tidak dilakukan oleh guru maka tujuan pembelajaran akan sulit dicapai. Bertitik tolak dari pemaparan diatas maka penulis tertarik untuk meneliti implementasi metode drill sebagai upaya mengatasi kesulitan belajar siswa dalam menghafal surah-surah pendek di kelas satu SD Muhammadiyah Pangkalpinang”
D. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka masalah yang akan dibahas lebih lanjut dalam penelitian ini dibatasai pada:
1. Perencanaan pembelajaran menghafal surat-surat pendek pada mata pelajaran pendidikan agama Islam di SD Muhammadiyah Pangkalpinang, adapun aspek yang menjadi perhatian dalam perencanaan ini yaitu: Proses perencanaan pembelajaran, tenaga pelaksana pembelajaran, peserta didik, sarana prasarana, waktu, tempat metode dan laporan hasil pelaksanaan pembelajaran.
2. Proses pembelajaran menghafal surat-surat pendek menggunakan metode drill pada mata pelajaran agama Islam oleh guru yang bersangkutan.
3. Proses evaluasi pembelajaran agama islam yang berkenaan dengan pelaksanaan pembelajaran dan peningkatan kemampuan menghafal surat-surat pendek dengan metode drill.


E. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang dipaparkan dalam latar belakang masalah diatas maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana upaya yang dilakukan SD Muhammadiyah mengatasi kesulitan menghafal surah-surah pendek di kelas 1?
2. Bagaimana penerapan Metode drill di kelas I SD Muhammadiyah?
3. Sejauhmana metode drill mampu mengatasi kesulitan siswa dalam menghafal surat-surat pendek di SD Kelas 1 Muhammadiyah?

F. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Adapun tujuan penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan SD Muhammadiyah dalam mengatasi kesulitan menghafal surah-surah pendek di kelas 1
b. Untuk mengetahui bagaimana penerapan Metode drill di kelas I SD Muhammadiyah
c. Untuk mengetahui sejauhmana metode drill mampu mengata si kesulitan siswa dalam menghafal surat- surat pendek di SD Kelas 1 Muhammadiyah
2. Sedangkan kegunaan penelitian ini adalah:
Dari hasil pelaksanaan penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
a. Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan wawasan tentang salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
b. Secara praktis hasil penelitian diharapkan dapat menjadi panduan praktis bagi orang tua, guru maupun pihak lain yang menginginkan serta peduli dalam aktifitas pembelajaran dan juga menjadi solusi atas permasalahan yang dihadapi.


G. Telaah Pustaka
Sepanjang pengetahuan penulis dari beberapa tulisan yang relevan dengan penelitian ini, seperti hasil penelitian Priono yang berjudul Implementasi Improving Learning Dengan Metode Drill Dan Resitasi Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Pada Pembelajaran Matematika (PTK Pembelajaran Matematika di SMP Muhammadiyah I Surakarta Kelas VIII tahun Ajaran 2007/2008 tujuan penelitan ini untuk mengetahui peningkatan keaktifan dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran matematika.
Sementara dalam penelitian yang lain yang dilakukan oleh Ardi dengan judul Efektifitas metode Sorogan Al Quran terhadap Motifasi Hafalan . Dalam kegiatan sorogan in siswa berhadapan langsung dengan guru, dimana interaksi mereka telah saling mengenal, metode ini dilakukan siswa tidak terlepas dari kesiapan yang harus dilakukan sepeti menghafal terlebih dahulu sebelum bertemu dengan guru bersangkutan (materi hafalan selalu diingat dan dilakukan kegiatan menghafal dimanapun tempat selain tempat yang dilarang membaca al Quran. Orientasi akhir sorogan ini adalah meningkatnya kemampuan hafalan al Quran siswa.
Sedangkan dalam penelitian dengan judul Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa dalam Menghafal Surah-Surah Pendek dengan Metode Drill di Kelas Satu SD Muhammadiyah Pangkalpinang, secara subtansial berbeda dengan penelitian-penelitian diatas. Tujuan penelitian yaitu mengatasi kesulitan dan meningkatkan kemampuan hafalan siswa Kelas Satu SD Muhammadiyah Pangkalpinang dengan metode pembelajaran yang tepat yaitu metode drill, dimana siswa selalu berlatih siap dalam menghafal surat-surat pendek.

H. Landasan Teoritis
Dalam teori mengajar vitale Dialektis mengajar berlangsung sebagai berikut, mula-mula guru dalam menyajikan pelajaran kepada murid secara aktif, kemudian guru pasif. Tahap lanjut guru hanya sebagai penolong kesukaran-kesukaran yang dihadapi murid dalam belajar. Tujuan akhir mengajar dengan teori ini adalah agar siswa benar-benar aktif dalam proses menghafal bahan-bahan pelajaran yang diberikan oleh guru.
Berkaitan dengan daya ingat atau ingatan (gedachnis, geheugen, memory) yaitu suatu kenyataan vital, daya untuk mengingat kembali kesan-kesan dan membanding-bandingkan kesan-kesan yang lama serta yang baru, ingatan ini berfungsi tanpa disadari. Tanpa ingatan ini maka proses-proses kerohanian, yaitu proses yang martabatnya lebih tinggi dari pada proses vital dan hanya dimiliki oleh manusia tidak berfungsi apa-apa. Tanpa ingatan maka orang tak dapat mengenal perubahan-perubahan serta harapan serta tidak dapat mengenang gambar keliru karena adanya jarak waktu dan tidak akan dapat berfantasi.
Menurut teori jiwa, jiwa manusia terdiri dari berbagai bagian atau daya-daya yang disebut juga “faculties”. Seorang ahli Phrenologi Frans Josep Gall dalam Mansyur menyatakan otak manusia terdiri dari 37 kotak, yang masing-masing mempunyai satu daya. Daya-daya itu mempunyai fungsi tertentu yang berbeda dengan lainnya. Daya-daya itu dapat dilatih, sehinggga bertambah baik fungsinya, untuk melatih daya-daya itu dipergunakan berbagai bahan. Apapun bahannya tidaklah menjadi masalah. Daya ingat dapat dipupuk dan dikembangkan dengan menghafal angka-angka, bahasa Rusia, Turki dan lain-lainnya, sampai kata-kata yang tidak ada artinya sama sekali.
Dari tinjauan teori mengajar dan belajar diatas dapat disimpulkan bahwa berkait dengan metode drill (latihan), peran guru sebagai penyaji dan penolong kesukaran serta orientasi kepada anak didik dengan banyak latihan menghafal akan mengembangkan satu daya ingat (satu bagian dari 37 bagian dari kotak-kotak daya) menjadi lebih baik fungsinya. Serta ingatan sendiri merupakan proses yang martabatnya lebih tinggi dari pada proses vital dan hanya dimiliki oleh manusia. Bahan latihan daya ingat ini adalah surah-surah pendek yang menjadi bahan pelajaran pendidikan agama Islam.
I. Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2010/2011, tempat pelaksanaan di SD Muhammadiyah Pangkalpinang. Subyek dalam penelitian tidakan kelas ini adalah siswa kelas I SD Muhammadiyah Pangkalpinang.

J. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dimana penelitian dilakukan secara sistematis dengan berbagai tindakan yang dilakukan oleh guru untuk mendapatkan suatu hasil dari tindakan yang dilakukan. Tindakan ini direncanakan sedemikian rupa dalam perencanaan, penilaian terhadap tindakan nyata di lakukan dalam kelas yang berupa kegiatan belajar mengajar untuk memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan.

2. Sifat Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas bersifat empiris artinya peneliti berupaya melaksanakan sesuatu tindakan dan membukukan apa yang dilakukan serta apa yang terjadi selama tindakan penelitian atau tindakan berlangsung. Prinsip kegiatan penelitian yaitu merencanakan, melaksanakan tindakan, membukukan apa yang dilakukan dan apa yang terjadi selama tindakan dilakukan, serta menyimpan catatan dan pengumpulan pengalaman peneliti dalam kegiatan penelitian sehari hari.

3. Model dan Prosedur Penelitian
a. Model Penelitian
Model Tindakan Kelas menggunakan model Kemmis dimana dalam satu siklus terdiri dari beberapa langkah, yaitu:
0) Perenungan
1) Perencanaan
2) Tindakan dan Observasi I
3) Refleksi I
4) Rencana Terevisi I
5) Tindakan dan Observasi II
6) Refleksi II
7) Rencana Terevisi III
8) Tindakan dan Observasi III
9) Refleksi III
Langkah diatas digambarkan:

Gambar I. Bentuk Spiral terdiri dari beberapa siklus
b. Prosedur Penelitian
Berawal dari rumusan masalah yang telah ditentukan diatas peneliti berkolaborasi dengan teman sejawat menentukan tindakan yang tepat untuk dapat diterapkan dalam mengatasi masalah yang ditemukan.
Tindakan yang akan dilakukan dalam penelitian ini direncanakan dilaksanakan dalam dua siklus yang dilaksanakan dalam 8 kali pertemuan, dengan tidak menutup kemungkinan apabila hasil yang diperoleh dari pelaksanaan penelitian dua siklus hasil kurang signifikan akan diperbaiki pada siklus ke tiga. Adapun tindakan yang akan dilaksanakan pada tiap siklus dijelaskan sebagai berikut:
a. Siklus I
1) Perencanaan tindakan
Adapun rencana tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini antara lain:
a) Menyusun skenario besar dalam satu siklus.
b) Menyiapkan materi dan penyusunan perangkat pembelajaran, seperti: silabus, RPP, dan alat evaluasi, serta menetapkan salah satu surat yang menjadi bahan hafalan siswa.
c) Menyusun lembar observasi kegiatan guru
d) Menyusun lembar observasi kegiatan siswa
e) Menyusun lembar refleksi kegiatan harian guru
f) Memberitahukan kegiatan penelitian kepada siswa
2) Tindakan dan observasi
Tindakan disini merupakan pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat, kegiatan berupa latihan menghafal dengan metode drill sesuai tahap yang direncanakan. Observasi dilakukan oleh observer (pengamat yang ditunjuk) dengan menggunakan lembar observasi. Lembar observasi yang harus diisi adalah lembar observasi guru dan siswa.
3) Refleksi hasil penelitian
Refleksi yang dimaksud disini merupakan refleksi kegiatan tiap pertemuan dimana refleksi ini menggambarkan tentang kelengkapan perangkat pembelajaran, pelaksanaan kegiatan, aktifitas proses pembelajaran, pengelolaan kelas dan minat siswa.
4) Penyusunan rencana revisi I
Setelah dilaksanakan 4 kali pertemuan (siklus I) dari data-data yang ada dianalisis dan didiskusikan bersama kolaborator. Selanjutnya diberikan kesimpulan (refleksi), kekurangan dan keberhasilan ini akan digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menyusun rencana rencana tindakan pada siklus II.
b. Siklus II
1) Perencanaan Tindakan Revisi
Adapun rencana tindakan yang dilakukan dalam penelitian ini antara lain:
a) Menyusun skenario besar revisi dalam satu siklus.
b) Menyiapkan materi dan penyusunan perangkat pembelajaran, seperti: silabus, RPP, dan alat evaluasi, serta menetapkan salah satu surat yang menjadi bahan hafalan siswa.
a) Menyusun lembar observasi kegiatan guru
b) Menyusun lembar observasi kegiatan siswa
c) Menyusun lembar refleksi kegiatan harian guru
2) Tindakan dan observasi
Tindakan disini merupakan pelaksanaan pembelajaran yang sudah direvisi dengan RPP yang telah direncankan dan dibuat, kegiatan berupa latihan menghafal dengan metode drill sesuai tahap yang direncanakan sesuai revisi yang diharapkan menutup kekurangan pada pelaksanaan pembelajaran siklus I. Observasi dilakukan oleh observer dengan menggunakan lembar observasi. Lembar observasi yang harus diisi adalah lembar observasi guru dan siswa.
3) Refleksi hasil penelitian II
Kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus II ditelaah bersama kolaborator, untuk mengetahui peningktan hafalan (penurunan kesulitan menghafal) siswa. Seluruh data yang diperoleh diolah dan dianalisis dan kemudian dituangkan dalam refleksi siklus II. Signifikansi ketercapaian harapan dan kenyataan ini menentukan kegiatan siklus selanjutnya jika diperlukan.
K. Teknik Pengumpulan dan Analisa Data
1. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data menggunakan perangkat, lembar observasi kegiatan guru dan siswa, refleksi harian, catatan lapangan dan dokumentasi:
a. Perangkat pembelajaran seperti kelengkapan silabus dan RPP yang berkaitan dengan penelitian.
b. Lembar observasi kegiatan guru dan siswa merupakan lembar checklist yang diisi oleh observer saat kegiatan pembelajaran dilaksanakan, berisi tentang: penampilan subyek penelitian pada saat kegiatan penilaian tentang penguasaan siswa atas materi yang menjadi bahan pembelajaran, hasil penilaian untuk mencari kelebihan dan kekurangan untuk diatasi pada siklus selanjutnya
c. Refleksi catatan harian seperti riwayat pribadi yang dilakukan secara teratur, seputar topik yang menarik, terkait perasaan, reaksi, penafsiran, refleksi dugaan hipotesis dan penjelasan yang tertuang dalam intrumen penelitian.
d. Catatan lapangan dan dokumentasi menjadi Sumber pelengkap data yang lain berbentuk foto/ slide yang digunakan untuk merekam peristiwa penting, catatan lapangan berupa penulisan secara ringkas hasil refleksi harian kedalam kolom catatan lapangan.


2. Teknik Analisa data
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dalam upaya mengatasi kesulitan siswa dalam menghafal surah-surah pendek di kelas 1 SD Muhammadiyah Pangkalpinang dengan metode drill.
Data hasil evaluasi setiap siklus di kategorisasikan secara hirarki berdasar tingkat keberhasilan. Dari hasil kategorisasi di olah dalam prosentase ketercapaian ketuntasan yang telah ditentukan dalam menghafal surat-surat pendek. Tidak terlepas menjadi perhatian ketercapaian ketuntasan siswa dalam surat-surat pendek selalu memperhatikan keaktifan dan peran serta anak dalam sesi pembelajaran menggunakan metode drill (latihan).

L. Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah penulisan dan pemahaman serta penganalisaan data dalam penelitian ini maka sistematika penlisan sebagai berikut:
Bab I adalah Pendahuluan yang berisi tentang: A.Penegasan istilah, B. Alasan pemilihan judul, C. Latar belakang masalah, D. Batasan masalah, E. Rumusan masalah, F. Tujuan dan kegunaan penelitian, G.Telaah pustaka, H. Landasan teoritis, I. Setting penelitian, J.Metodologi penelitian, K. Teknik pengumpulan dan analisa data, L. Sistematika pembahasan.
Bab II berisi tentang kajian tentang: A. Metode pembelajaran Drill,B. Langkah-langkah penerapannnya metode drill di kelas, C. Kelebihan metode drill dalam mengatasi kesulitan menghafal.
Bab III berisi tentang keadaaan umum SD Muhammadiyah: A. Gambaran umum SD Muhammadiyah Pangkalpinang, B. Keadaan sarana dan prasarana, guru dan siswa, serta C. Sistem pembelajaran yang dilaksanakan di SD Muhammadiyah Pangkalpinang.
Bab IV berisi tentang: A. Upaya Mengatasi kesulitan siswa dalam menghafal surah-surah pendek di kelas 1 SD Muhammadiyah Pangkalpinang, B. Analisis terhadap Penerapan metode drill di SD Muhammadiyah Kelas I, C.Analisis efektifitas Metode Drill dalam mengatasi kesulitan siswa dalam menghafal surat-surat pendek di SD Muhammadiyah kelas 1.
Bab V Adalah Penutup berisi tentang: A. Kesimpulan, dan B. Saran.

DAFTAR PUSTAKA



Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta, Departemen Agama RI, 2005).

Departemen Agama RI, Petunjuk Teknis Pondok Pesantren, (Dirjen Kelembagaan Islam, direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren: 2004)

Mohammad Asrori, Psikologi Pembelajaran, (Bandung: CV Wacana Prima: 2007)

Mansyur dkk, Metodologi Pendidikan Agama (Jakarta: CV Forum: 1981)

Priono, Implementasi Improving Learning Dengan Metode Drill Dan Resitasi Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Pada Pembelajaran Matematika (PTK Pembelajaran Matematika di SMP Muhammadiyah I Surakarta Kelas VIII tahun Ajaran 2007/2008 dalam WWW. Dunia pendidikan.co.id, 2007 (diakses pada tanggal 11 September 2010)

Pusat Bahasa Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka: 2007).

Sri Anitah, Strategi Pembelajaran di SD, (Jakarta: Universitas Terbuka: 2008)

Suwarsih Madya , Panduan Penelitian Tindakan, (Yogyakarta, Lembaga Penelitian IKIP: 1994)

Soemadi S. Pengantar Psikologi Sosial I. (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi, 1968)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar